01 Mar RAHASIA PEDAGANG BESAR GLODOK
Selama lebih 10 tahun, saya berinteraksi dengan pedagang di Glodok Jakarta dan sekitarnya. Tempat ini menjadi pusat perputaran uang harian terbesar di Indonesia, juga berdasarkan pengamatan terhadap pebisnis keturunan Cina di beberapa daerah.
Kesimpulan saya sangat sederhana: “Cashflow, Gaya hidup, kontrol dan jaringan adalah kunci sukses utama”.
CASHFLOW
Perputaran uang yang cepat adalah nadi utama bagi bisnis mereka layaknya manusia. Cashflow adalah peredaran darah, sekali terhenti selesailah kehidupan.
Maka kita bisa lihat mereka menjual barang dengan volume yang sangat besar dan harga sangat murah, ini akan membuat semua stakeholders happy. Supliers, customers dan pastinya pelaku bisnis itu sendiri. Pertumbuhan penjualan akan sangat cepat dan menyebar ke seluruh daerah.
Dengan harga yang sangat murah apakah mereka untung? Logikanya Kalau tidak untung apa mereka bisa tumbuh? Bahkan sering saya jual barang ke mereka dengan harga 100 tapi mereka jual kepelanggannya dengan harga di bawah 100. Inilah ilmu dagang yg tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun dan hanya praktisi yang bisa menjelaskan.
Saya sudah jelaskan sedikit kemarin waktu kopdar AMRI Tangerang, dahsyatnya uang Rp 1.000 dibandingkan dengan Rp 500 juta jika faham cara mengelolanya hanya dalam 30 hari.
Dengan cara berdagang seperti diatas kita tahu hampir sebagian besar pedagang disana beromzet sangat besar, apapun barang dagangannya.
GAYA HIDUP
Generasi pertama, saya perkirakan sekitar tahun 1960 hingga 1980an, memulai dengan modal seadanya, mereka datang dari daerah seperti Pontianak, Medan, Bangka dan lain lain.
Gaya hidupnya terlihat amat sangat sederhana, maaf banyak kita jumpai mereka gunakan celana pendek, kaos oblong dan makan bubur atau menu seadanya. Mereka sangat disiplin dalam bekerja dan membelanjakan uang, khususnya untuk pengeluaran yang bersifat konsumtif mereka sangat bisa menunda kesenangan.
Modal yang sedikit tumbuh perlahan beranak, bercucu sampai bercicit walau demikian mereka sebagian masih hidup dengan gaya seperti awal memulai usaha. Namun setelah dirasa bisnisnya cukup besar, modalnya bertambah amat sangat signifikan barulah mereka gunakan untuk kebutuhan pendidikan anaknya yang kebanyakan dikirim ke luar negeri.
Silahkan bedakan dengan kita yang baru untung sedikit sudah pingin beli sesuatu yang sebetulnya belum perlu.
(Bersambung ke tulisan selanjutnya)
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Deni’s Mart
No Comments