30 Jul TOKO BERMONOPOLI ATAU BANGKRUT
Oleh: Adjib Mada Winata *)
Monopoli adalah salah satu jaminan sukses untuk toko ritel baik offline maupun online. Sebagai murid pertama Suhu Wan di Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia (AMRI), penulis merasa ada tanggung jawab moral untuk “mendakwahkan” ilmu monopoli di bisnis ritel ini kepada member AMRI pada khususnya dan masyarakat ritel pada umumnya.
Apa Itu Monopoli?
Sebagaimana yang disampaikan oleh Suhu Wan di berbagai kesempatan, juga beberapa kali penulis bahas di artikel-artikel sebelumnya, bahwa monopoli yang dimaksud adalah monopoli yang legal, monopoli yang halal, monopoli yang masuk surga (meminjam bahasa Tung Desem Waringin), monopoli yang untung. Bisnis yang mempunyai monopoli, berarti bisnis yang tidak punya saingan, tidak sekedar mempunyai nilai lebih atau nilai plus dari pesaingnya, tapi lebih dari itu yaitu tidak punya pesaing. Sepertinya bersaing dengan kompetitor, tapi sejatinya tidak bersaing.
Bisnis yang bermonopoli bebas menentukan harga dan margin, karena hanya satu-satunya dan konsumen tidak punya pilihan lain kecuali harus beli dengan harga yang ditetapkan penjual tanpa bisa menawar.
Monopoli di Toko Offline
Monopoli di toko ritel offline bisa dijalankan melalui beberapa cara. Bisa berupa pelayanan bermonopoli, bisa berupa tempat yang bermonopoli, bisa berupa produk yang bermonopoli dan lain-lain.
Pelayanan bermonopoli semisal pelayanan antar belanja gratis, sedangkan toko di sekitar tidak ada yang mempunyai layanan tersebut. Tempat bermonopoli semisal berjualan makanan atau minuman satu-satunya di pesawat maupun di kereta. Sedangkan produk yang bermonopoli semisal kita menjadi agen resmi yang menjual produk tertentu satu-satunya di suatu daerah tertentu.
Monopoli di Toko Online
Toko ritel online juga bisa bermonopoli. Semisal: monopoli fasilitas, monopoli brand, monopoli pelayanan dan lain-lain.
Monopoli fasilitas seperti konsumen akan mendapatkan fasilitas tertentu, sedangkan toko online lainnya tidak memberikan fasilitas serupa. Monopoli brand artinya toko ritel online tersebut punya brand sendiri yang tidak dijual oleh toko ritel online lainnya. Sedangkan monopoli pelayanan semisal gratis ongkos kirim di saat toko ritel online lainnya membebankan ongkos kirim kepada konsumen.
Dan masih banyak lagi contoh monopoli baik untuk toko ritel offline maupun online yang bisa diciptakan.
Bermonopoli Atau Bangkrut
Di saat persaingan ketat bahkan ada yang sampai berdarah-darah, dimana semakin hari semakin banyak pesaing, untuk bisa memenangkan persaingan tidak cukup hanya berbekal asal beda maupun hanya punya nilai lebih yang gampang ditiru. Untuk memenangkan persaingan, kita wajib mempunyai cara sendiri di jalan punya sendiri sehingga bebas menentukan harga dan keuntungan.
Menang persaingan tapi berdarah-darah bukanlah sebuah ciri bisnis bermonopoli. Karena bila menang persaingan tapi berdarah-darah (tidak untung) pada akhirnya akan bangkrut juga.
Monopoli di antara Reruntuhan
Berbekal jurus monopoli, Suhu Wan dengan 73 minimarket Idolmartnya sudah membuktikan bahwa dalam rentang tahun 2017 sampai dengan tahun 2018 ini di saat para peritel sedang lesu bahkan bangkrut, Idolmart mampu membukukan penjualan bersih 24,5%. Setidaknya ilmu monopoli yang di terapkan Suhu Wan di Idolmart menggambarkan toko ritel bermonopoli sanggup bertahan bahkan tetap untung di saat toko ritel lainnya mengalami runtuh pada “musim gugur” ritel periode 2017 sampai dengan 2018 ini.
Salam 5 Jari.
*) Penulis adalah Sekjen DPP Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia, konsultan dan praktisi ritel.
No Comments