12 Okt TEPATKAH MANTRA “INOVASI ATAU MATI?” (Bagian 2)
Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner Idolmart)
Pada bagian sebelumnya saya menyampaikan banyak bisnis yang melakukan inovasi namun berakhir dengan kegagalan. Sebaliknya tanpa melakukan inovasi dalam kondisi dunia bisnis yang saat ini berubah sangat cepat, bisnis kita juga akan berakhir.
Inovasi perintis dan pelopor bagi perusahaan start up sudah tidak dapat disangkal lagi. Keberhasilah para unicorn seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan yang lain kata kuncinya adalah “inovasi”. Namun kita juga tahu sangat banyak sekali start up yang gagal walaupun mereka sama-sama terus melakukan inovasi?
Inovasi sangat penting, tanpa berinovasi bisnis kita akan mandeg dan akan berakhir pada kegagalan. Tetapi inovasi jugalah yang banyak membuat perusahaan mengalami kegagalan. Solusinya adalah menggantikan mantra INOVASI ATAU MATI dengan TEMBAKKAN PELURU, BARU BOLA MERIAM.
Bayangkan kita di atas kapal perang dan ada kapal musuh yang sedang menghampiri kita. Kita punya banyak peluru tetapi hanya punya 3 bola meriam. Kita menembakkan bola meriam pertama ke kapal musuh…gagal…jauh dari sasaran. Kemudian menembakkan bola meriam yang kedua….masih gagal walaupun sudah dekat kapal musuh. Akhirnya kita tembakkan bola meriam yang ketiga (terakhir)…..hampir kena tetapi tidak kena, alias masih gagal. Bola meriam kita habis sementara musuh masih ada dan kita kalah.
Seharusnya ketika melihat kapal musuh mendekat, kita tidak langsung menembahkkan bola meriam. Tembakkan saja dulu peluru, dan tembakan pertama meleset masih jauh. Kita tembakkan lagi peluru berikutnya…tetap masih meleset walau sudah mendekat sasaran. Tembakkan peluru ketiga…sudah hampir kena. Saat menembakkan peluru keempat…barulah tepat mengenai musuh. Barulah kita ambil bola meriam dan kita tembakkan..bummmmm….. kapal musuh tenggelam.
Saat membuka cafe (bisnis kuliner) di bekasi tahun 2011 saya melakukan promosi grand opening dengan menyebar brosur. Saya tidak langsung menyebar 10 ribu lembar brosur karena akan memakan biaya yang besar (bola meriam). Saya membuat 100 lembar brosur dengan hanya diprint sehingga biayanya kecil hanya 400 ribu rupiah (menembakkan peluru).
Awalnya dari 100 lembar brosur yang disebar tidak ada konsumen yang datang. Saya lakukan inovasi lagi pada brosur (menembakkan peluru lagi) agar lebih menarik, dicetak 100 lembar lagi dan kembali disebar…..hanya 2 orang yang datang. Inovasi (menembakkan peluru) lagi…datang 12 orang……bummmmmmmm….saya sebar 10 ribu lembar brosur (bola meriam)…..ada 1000 orang yang datang. Di brosur saya buat tanggal sehingga 1000 orang itu datang bergiliran selama 2 minggu, cafe saya menjadi sangat ramai walaupun setelah era promosi berakhir.
Peluru adalah inovasi yang rendah biaya dan rendah risiko, bola meriam adalah inovasi yang berbiaya besar dan sangat berisiko jika kita gagal. Kunci melakukan inovasi, tembakkan dulu peluru terlebih dahulu, kemudian diukur ketepatannya (kalibrasi), jika gagal lakukan lagi dengan peluru berikutnya, kalibrasi lagi….jika tepat barulah kita tembakkan bola meriam.
Masih banyak cerita tentang inovasi dengan teknik menembakkan peluru baru bola meriam ini yang ingin saya sampaikan, termasuk kisah-kisah perusahaan lain yang sukses dan gagal dalam berinovasi. Peluru itu juga tidak mesti peluru dari kita, melainkan bisa peluru yang sudah dilakukan perusahaan yang lain. Pengalaman adalah guru yang paling baik, tetapi yang paling baik itu bukanlah berasal dari pengalaman kita sendiri melainkan dari pengalaman orang lain.
Insya Allah pada SEMINAR NASIONAL MASYARAKAT RITEL 2019 tanggal 16 Nopember 2019 di Mesjid Besar Jabalnur Sentul City, Bogor akan saya kupas tentang inovasi “menembakkan peluru, baru bola meriam” dan bagaimana penerapannya di Idolmart.
Selamat pagi, semoga bermanfaat
Salam ? jari AMRI
No Comments