28 Sep Strategi Peritel Besar Hadapi Kelesuan Pasar
JAKARTA, Ritelnews.com – Perubahan strategi mesti dilakukan pelaku usaha ritel besar untuk menghadapi lesunya industri ritel besar saat ini. Ada beberapa cara yang perlu dilakukan agar industri ritel besar mampu bertahan.
Cara pertama adalah beradaptasi dengan pola perilaku konsumen. Ada perubahan pola perilaku konsumen di dalam dunia ritel. Perubahan itu menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Nicholas Mandey, adalah konsumen lebih praktis dalam berbelanja.
Sebelumnya, kata Roy, konsumen berbelanja di toko ritel besar setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Namun ini tidak lagi terjadi. Menurutnya, konsumen kini berbelanja keperluan untuk jangka pendek. Apa yang dibutuhkan saat itu, baru dibeli.
Ini berpengaruh terhadap jumlah pengunjung ke supermarket setiap bulan. Roy mengatakan, konsumen lebih memilih berbelanja di mini market ketimbang ke supermarket atau hypermarket. Dampaknya juga pada nilai transaksi di supermarket.
Menurut Roy, pengunjung yang berbelanja di supermarket nilai transaksinya lebih besar karena barang yang disediakan lebih lengkap. “Tadinya tidak berniat belanja suatu barang, karena melihat barang itu ada maka dibeli sama konsumen,” papar Roy dilansir dari kontan.co.id.
Namun karena konsumen lebih memilih berbelanja di mini market, maka nilai transaksi di supermarket yang tadinya besar karena ada pembelanjaan di luar rencana, menjadi berkurang. “Industri ritel besar harus mengikuti perubahan pola konsumsi masyarakat ini karena saat ini toko ritel yang lebih kecil menjadi pilihan konsumen,” tutur Roy.
Ditambah lagi perubahan pola konsumsi masyarakat di era digital dimana ada barang-barang tertentu bisa dibeli lewat belanja online. Ini juga harus diperhatikan para peritel besar untuk bersaing di industri ritel mengingat beberapa peritel besar seperti Hero Supermarket menutup enam gerai Giant karena perubahan pola konsumsi masyarakat.
Cara selanjutnya adalah dengan efisiensi. Efisiensi yang dimaksud Roy adalah menyediakan barang seefektif mungkin. Sehingga, kata dia, tidak ada lagi barang yang tak terjual. Penggunaan listrik juga menurut Roy mesti efisien.
Setelah itu cara yang bisa ditempuh untuk bisa bersaing adalah dengan beradaptasi pada sistem teknologi. Roy mengatakan, peritel besar harus menggunakan teknologi payment karena ini yang menjadi pilihan konsumen saat ini.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Masyarakat Indonesia (AMRI) Suhu Wan dengan berubahnya pola belanja konsumen ke minimarket dan online, membuat banyak peritel besar dan mall-mall yang sepi. Tetapi ada beberapa mall yang tetap masih ramai, yaitu yang mejadikan mall sebagai tempat belanja sekaligus sebagai tempat bermain, nongkrong dan menonton. Dengan strategi memadukan konsep belanja dan life style membuat beberapa mall tetap ramai dikunjungi pelanggan kata Suhu Wan.
Penulis: Reza Gautama
Sumber: kontan.co.id
No Comments