Social Links
AMRI | SPIRITUALITAS BISNIS: ANTARA MASALAH DAN RAHASIA ILAHI (Part 1)
18459
post-template-default,single,single-post,postid-18459,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SPIRITUALITAS BISNIS: ANTARA MASALAH DAN RAHASIA ILAHI (Part 1)

Oleh: Ustadz Nanang *)

Suatu hari Rasulullah SAW menjenguk yang sedang sakit demam. Beliau SAW menghibur dan mendoakannya, “laa ba’tsa thohuuron Insya Allah.” Maknanya, tidak mengapa Insya Allah sakit ini menjadi pelebur dosa.

Orang yang sakit tersebut menjawab doa nabi SAW dengan mengatakan, “Ini demam yang sangat mendidih, jika menimpa orang tua yang sudah renta bisa menyeretnya ke liang kubur.”

Mendengar jawaban tersebut Rasul SAW, langsung menimpalinya, “fa-na-am idza.” Artinya, jika demikian anggapanmu, maka begitulah jadinya.

Pelajarannya, jangan mengeluhkan masalah yang dihadapi. Kita tidak tahu rahasianya. Keadaan sekarang, bagian dari pikiran kita sendiri. Dari baiknya pikiran, keluar perkataan yang baik, dan perbuatan baik. Jika kebaikan menjadi kebiasaan, maka mengarahkan pada akhir yang baik.

Sebaliknya, jika pikiran buruk, maka akan diikuti oleh ucapan yang buruk, perbuatan dan kebiasaan buruk. Akhirnya, bernasib buruk.
Ingat apa yang dikatakan bang Arif tentang daya tarik atas apa yang kita inginkan. Law of attraktion.

Kisah di atas bertolak belakang dengan mindset positif. Big dream nabi Sulaiman as, sebagaimana terlantunkan dalam doanya, “Tuhan, ampunilah aku. Dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak Engkau berikan kepada siapapun setelah aku. Sungguh Engkau adalah Maha Pemberi.”

Eh, Nabi kok malah minta dunia ? Bukankah seharusnya zuhud. Hanya mengajak umatnya kepada akhirat? Ini kok mengajarkan untuk minta dunia? Hadeeuh..

Yap, jangan berspekulasi yang buruk dulu. Nabi Sulaiman as, memiliki visi jauh kedepan yang melampaui batas dunia. Permintaan kerajaan, bukan sekedar kerajaan. Yang ada hanya kekuasaan, istana, kekayaan, pengikut, rakyat tapi juga tentu ada pengaruh.

Ya, pengaruh! Raja itu yang dihormati bahkan dimuliakan. Rupanya, Sulaiman as tipikal manusia yang tidak puas hanya sekedar diberikan kegelimangan harta. Tapi memiliki kepedulian, baik untuk generasi setelahnya dan sekaligus pengaruh positif untuk kehidupan beliau setelah meninggalkan dunia (kekayaan) yang fana ini.

Pengaruh, dengannya dapat mewarisi kebaikan. Menanamkan nilai-nilai idiologi, dan lainnya. Sehingga jika kebaikan-kebaikan tersebut direalisasikan oleh generasi berikutnya, tentu akan mengalirkan kebaikan pula kepada orang yang mewariskannya.

Itulah big dream nabi Sulaiman as. Jauh bertolak belakang dengan orang sakit demam, setelah dihibur dan didoakan oleh nabi SAW, malah mengeluhkan sakit yang dideritanya.

Lalu bagaimana bersikap atas keadaan kita ?

AMRI mengajarkan banyak hal:
¤ memiliki mimpi dan tujuan hidup
¤ melatih skill dan sikap
¤ memantapkan keyakinan ada rahasia Tuhan dibalik setiap kejadian.

Tentu kita ingat, bagaimana Allah SWT, menekankan agar kita memiliki keyakinan bahwa setelah kesulitan (masalah) ada kemudahan (sukses), maka sungguh setelah kesulitan ada kemudahan. Pesan Tuhan yang penuh energi jaminan akan ada solusi dari setiap permasalahan.

Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor AMRI Dan Pengasuh Sekolah Islam Terpadu Al Kautsar

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment