Social Links
AMRI | SEBUAH RENUNGAN (Bagian pertama)
19519
post-template-default,single,single-post,postid-19519,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SEBUAH RENUNGAN (Bagian pertama)

Oleh : Anang Sujana

Jika bermimpi saat sedang tidak tidur adalah mimpi yang hidup, kreatif dari imajinasi pikiran yang akan tumbuh memproduksi ke alam kenyataan.

Ibarat memikirkan sesuatu yang abstrak, untuk di wujudkan, berjalan menuju masa depan, berfikir masa depan, menciptakan peristiwa masa depan.

Seperti seseorang ingin membangun rumah, berawal dengan membayangkan dengan menggambarkan terlebih dulu gambar rumahnya, lengkap dengan pagar dan warna catnya, di tanah kosong di mana saat ini dia berdiri.

Seperti seorang pemahat, merancang patung kuda yang di mulai dengan membayangkan kaki kudanya, lalu mewujudkan pahatannya pada kayu gelondongan yang utuh panjang dan bulat.

Itu pemikir masa depan dan itu mencipta masa depan, dari yang tadinya tidak ada, dari yang tadinya hanya di alam pikiran, diwujudkan ke alam kenyataan. Itulah pekerjaan otak kanan berfikir tidak realistis menjadi hal yang realistis.

Banyak cara mewujudkan masa depan dibawa ke masa kini. Berani bermimpi, lalu berani memulai melangkah menuju ke impian itu.

Saat ini mungkin saja kita bukan siapa-siapa, sehingga untuk bermimpi besar, bermimpi maju, nggak berani. Merasa diri nggak mampu, dan takut. Padahal, semua yang wujud saat ini, berawal dari impian.

Kenapa kita “takut”? Karena kita tidak tahu akan masa depan, kita memikirkan soal ketidakpastian, padahal obat ketenangan dari ketidakpastian adalah pasrah dan berserah.

Tajamkan pikiran, endapkan ketakutan, meskipun harus terus berduel dengan keraguan, kita bisa memenangkannya, dengan melatih keyakinan itu.

Ketika kita ingin punya toko ribuan cabang seperti Alfamart atau Indomaret. Ingin punya toko ritel yang modern yang unik seperti Idolmart dengan 80 cabang, tentu saja tidak langsung membuka banyak cabang seperti perusahaan tersebut kan? Dimulai dari impian yang produktif, dimulai dari pikiran, lalu memulai dengan yang paling sederhana yang bisa kita lakukan saat ini dan sekarang juga.

Kalau saat ini belum punya modal dan belum punya keahlian di bidang itu, mulai saja dengan belajar dulu, ikut seminar, baca buku dan masuk ke komunitas yang sesuai dengan impian kita itu.

Contohnya, masuk AMRI komunitas ritel, jadi kita bisa belajar dulu, kita bisa mempersiapkan dulu mental dan masuk dalam iklim bisnisnya.

Dulu, saat saya masuk AMRI tujuannya hanya ingin belajar, ingin bergabung dengan orang-orang hebat.

Sebelumnya saya aktif di komunitas bisnis lainnya, sebelum masuk Amri, usaha saya lagi terpuruk, bahkan 2017 saya menjual banyak aset termasuk pabrik, ruko dan 3 rumah. Hasil penjualannya saya tutup untuk melunasi hutang ke bank diatas 7 milyar.

Alhamdulillah, selama 4 tahun saya merenung dan beberapa kali membangun bisnis gagal terus, bahkan membuat hutang tambah dalam.

Masuk Amri, saya ketemu dengan beberapa mentor dan lumayan semangat berusaha bangkit lagi.

Puncaknya, saya ketemu Bang Beny mentor AMRI pusat, kita diskusi bisnis di salah satu kedai kopi, dari obrolan itulah tiba-tiba kepala saya mulai berputar-putar dan semangat membara kembali hinggap di dada saya.

Dari obrolan malam itulah, terinspirasi kembali pada membangun mimpi tadi. Malam itu adalah titik balik kembalinya semangat saya, lalu saya membangun mimpi ingin punya toko dan produksi 350 cabang dalam waktu 3 tahun.

BERSAMBUNG…

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment