Social Links
AMRI | SAAT TERPURUK, APA YANG DIDAHULUKAN?
18695
post-template-default,single,single-post,postid-18695,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

SAAT TERPURUK, APA YANG DIDAHULUKAN?

Oleh: Maryono dan Adib Munajib *)

Banyak pengalaman para Mentor Nasional AMRI dalam menghadapi berbagai krisis. Salah satunya pengalaman bang Maryono disaat resesi ekonomi 1998.

Beliau menceritakan bagaimana bangkit disaat omset menurun dan hutang menumpuk. Berikut kisahnya.

Tahun 98 tempat saya kerja bisa di bilang bangkrut. Hutang dagang $35 juta dari Kurs 2.500 jadi 15.000.

Bos bicara ke saya sudah tak mungkin bertahan. Tapi saya sarankan untuk gali cashflow dengan menjual barang dibawah harga kompetitor. Skema cash in advance dengan waktu itu term of payment 30 sd 60 hari.

Lalu minta reschedule hutang ke suplier dengan jangka 5 tahun karena force majeur.

Bos bilang kita bisa makin dalam, tapi saya bilang tanpa action kita sudah bangkrut apa beda sekarang dan nanti. Tapi kalo cashflow bagus, pabrik bisa produksi terus tanpa harus PHK banyak orang, pasar bisa dimaintain, cashflow lancar.

Ternyata saran saya diikuti. Kami jual barang dengan kondisi cash discount 20-30%. Move ini sangat gila. Karena pasar jadi dominan hanya oleh produk kami, 80% market share, tak ada kompetitor yang berani follow.

Dalam beberapa bulan aktifitas perusahaan sangat dinamis. Perlahan dolar turun dan sedikit demi sedikit perusahaan beli dolar untuk mencicil hutang. Alhamdulillah dalam 2 tahun hutang lunas, perusahaan kembali sehat, market share no.1, jumlah karyawan kembali normal.

Dalam rapat managemen bos menyampaikan: “Yg menolong kita waktu krisis adalah CASHFLOW”.

Bang Adib Munajib pun menceritakan bagaimana pengalamannya.

Pada krisis tahun 2008 tercatat dalam income statement PT. AMS tempat saya kerja juga merugi sampai 6 milyar at retail bukan at cost. Namun cashflow sehat, dan itulah satu-satunya kerugian yang pernah dialami.

Waktu itu saya presentasi di depan team work, manajemen dan presiden direktur. Merekomendasikan 2 poin yaitu clearance sale produk deadstock (masih layak jual) yang sudah mengendap tahunan dan write off product yang tidak layak jual, alhasil setelahnya bisa bernapas lega. He he he katanya itu keputusan yang berani.

Demikian beragam kisah keberanian ditengah omset menurun dan hutang menumpuk.

Salam 5 Jari

*) Keduanya Mentor Nasional AMRI

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment