Social Links
AMRI | RUMAH, ASET ATAU HUTANG?
17660
post-template-default,single,single-post,postid-17660,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

RUMAH, ASET ATAU HUTANG?

Pada malam menyambut tahun baru 2004 saya berkumpul “tasyakuran” dengan para tetangga di Cikarang Baru, Bekasi. Saat itu seorang tetangga bertanya pada saya, “Saya sudah lama penasaran ingin bertanya sebenarnya dan Alhamdulillah sekarang baru punya kesempatan, saya tahu Pak wan punya banyak toko tetapi kenapa Pak Wan sampai sekarang rumah masing ngotrak? Sedangkan saya yang karyawan dan tidak punya bisnis sudah punya rumah sendiri”

Perumahan tempat saya menyewa adalah tipe 45 dan 36 dan mayoritas yang tinggal disitu adalah karyawan. Pertanyaan tetangga tadi membuat semua orang yang berkumpul menunggu jawaban saya, karena mungkin penasaran juga ?.
“Bapak tahu kan saya juga punya tanah di ujung jalan yang saya jadikan toko?”, saya balik bertanya.
“Pasti tahu Pak, tokonya sangat ramai”, jawab tetangga tersebut.
“Kira-kira setiap bulan menghasilkan (memberikan) uang tidak kepada saya?”, tanya saya lagi
“Toko ramai begitu ya saya yakin pasti untung lah Pak”, jawabnya.
“Rumah yang Bapak miliki kira-kira memberikan uang tidak?”, pancing saya ?
“Tidak sama sekali Pak”, jawabnya sambil tersenyum kecut.

“Bukan hanya tidak memberikan uang, malah setiap bulan membuat pengeluaran bagi Bapak”, lanjut saya menjelaskan,”Setiap bulan bayar cicilan, bayar listrik, bayar renovasi/perbaikan, harus diisi perabot jika sudah direnovasi dll”.
“Memang benar Pak, semua yang kimpul disini juga sama seperti saya”, ujarnya.
Saya bertanya lagi,”Apakah menurut Bapak rumah yang dimiliki sekarang adalah aset?”
“Ya Iyalah Pak”jawabnya.
“Arti yang sebenarnya dari aset (harta) adalah jika dia menghasilkan atau memberikan uang kepada kita setiap bulan, seperti toko saya itu adalah aset. Sedangkan jika kita harus mengeluarkan uang setiap bulan itu bukan “aset” namun adalah “hutang” sebenarnya, jadi rumah adalah hutang”, saya memberikan penjelasan.

“Bagaimana caranya agar rumah saya bisa menjadi aset Pak?”, tanya tetangga yang lain ikut penasaran.
“Rumah bisa menjadi aset jika rumah tersebut kita kontrakan misalnya”, jawab saya.
“Namun jika saya kontrakan saat ini paling laku Rp 6 juta setahun, sedangkan cicilan yang harus saya bayar ke bank Rp 1 juta lebih, artinya tetap saja saya tidak bisa menerima uang, apakah itu tergolong aset atau hutang?”, tanya dia lagi.
Saya jawab,”Jika kita masih tetap mengeluarkan uang tetap saja itu hutang walaupun kita kontrakan. Bisa disebut aset jika harga kontrak melebihi uang (biaya termasuk cicilan) yang kita keluarkan”.
“Oh itu ada Pak Edi, rumahnya dibuat kost-kostan dengan 6 kamar (2 lantai) dengan pendapatan 400 ribu per kamar, total jika penuh dapat Rp 2,4 juta, sedangkan cicilan tidak sampai setengahnya, berarti rumah Pak Edi itu aset ya Pak Wan?” tanya tetangga yang lain lagi.
“Iya benar itu aset”, jawab saya.

Tetangga yang pertama kali bertanya langsung berkata lagi,”OK Pak Wan, sekarang sudah jelas bagi kami ternyata rumah yang hanya ditempati sendiri itu adalah hutang, walaupun sadarnya baru sekarang ?, pertanyaan terakhir dari saya begini, saya kan cuma seorang karyawan dan bukan pebisnis seperti Bapak, jika saya tidak membeli rumah sekarang kan harga rumah itu naik terus, lama-lama malah saya tidak akan mampu punya rumah lagi”.
Saya menjawab,”Hidup ini kita punya pilihan, termasuk masalah rumah. Dengan rumah yang Bapak miliki saat ini ada beberapa kelemahan: PERTAMA, rumah itu hutang sehingga setiap bulan harus mengeluarkan uang sehingga sulit untuk memiliki simpanan. KEDUA, karena rumah sendiri kita tergoda untuk merenovasi apalagi jika anak harus punya kamar sendiri, setelah di renovasi maka harus beli perabot lagi. Sedangkan saya dengan mengontrak tidak mungkin merenovasi rumah milik orang lain ?, karena tidak ada pengembangan luas maka tidak akan bisa membeli perabot baru. KETIGA, dengan punya rumah dan menyedot uang maka kita sulit mendapat kesempatan memulai bisnis (tidak ada modal) sehingga proses belajar bisnis tidak bisa kita lakukan.

SAYA TIDAK PUNYA RUMAH TETAPI SAYA PUNYA 10 TOKO, SEDANGKAN BAPAK PUNYA RUMAH NAMUN TIDAK PUNYA TOKO.

ANDAIKATA SAYA PUNYA RUMAH MUNGKIN HARI INI SAYA TIDAK PUNYA TOKO, SEBALIKNYA JIKA BAPAK TIDAK PUNYA RUMAH MUNGKIN BAPAK PUNYA 10 TOKO SAAT INI” ?, diskusi berakhir.

Salam ? jari AMRI
Wan MH

Joint AMRI !! Dapatkan ilmu-ilmu ritel super keren di www.ritelnews.com
Info hubungi Admin AMRI:
bang Taufiq No WA : 085643032070
bang Fardhi No WA : 081390052417

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
1Comment
  • Ahmad Yani
    Posted at 18:06h, 22 Agustus Balas

    Saya buka toko sejak 1985, modal penjualan Vespa anak saya, dua tahun sebelum INDOMARET buka toko pertama di Kalbar. Berkembang menjadi yg terbesar di kawasan. Sayang saya menyebalkan usaha itu. Saya tinggal jadi karyawan dan lama lama menyusut. Saat saya sadar dan mau berubah lansekap bisnis sudah berubah. Indo Alfa bertebaran. Namun yg terutama jalan depan toko yg sebelumnya jalan utama menjadi jalan yg mati karena ada pelajaran oleh kompleks yg di luar kuasa saya. Sekali lagi yg utama adalah saya tidak bangga dan tidak fokus mengurus toko saya saat saya bisa berjaya. Thank Ilmunya GURU WAN

Post A Comment