30 Mar RESIKO BUKA TOKO BERBASIS HUTANG BANK
Saya merasa perlu untuk menghubungkan semua tulisan saya yang berpusat pada bisnis model kanvas.
Saat berhasil membangun 4 cabang setiap 8 bulan, saya merasa sangat percaya diri dan bangga luar biasa. Omset penjualan tumbuh luar biasa. Seiring dengan itu hutangnya juga tumbuh luar biasa. Cicilan membengkak.
Saat bertemu kawan-kawan saya menghibur diri. Kata saya, “Hutang itu adalah daya ungkit”. Semakin besar hutang maka semakin besar omsetnya. Saya tidak menyadari hutang semakin besar, cicilan juga semakin besar.
Setelah dihitung, ternyata terlalu cepat berhutang. Sementara cicilannya juga menggerus laba kotor. Bukan hanya laba kotor yang habis, tapi laba bersihnya juga habis buat cicilan bank. Jadi dulu saya berpikir “yang penting bisa membayar cicilan”.
Nah apa yang terjadi saat cicilan bank mendekati besarnya omset penjualan tiap bulan? Laba bersih yang mestinya buat modal lagi dan untuk membayar suplier telah habis sebelum dibayarkan.
Akhirnya saya menunda pembayaran ke suplier dan mencari suplier baru, terus seperti itu. Sampai pada akhirnya sadar, tidak boleh bermain kucing-kucingan dengan suplier dan arus kas saya.
Setelah banyak belajar dari berbagai sumber, termasuk Suhu Wan, tentang cara membaca laporan keuangan. Maka diputuskan untuk bertobat. Segera menyadari kekeliruan. Bertumbuh terlalu cepat juga dapat membunuh usaha. Tapi jika tidak didorong untuk tumbuh, usaha kita akan sirna.
Maka pentingnya melek finansial bagi pebisnis itu letaknya di cara kita membaca laporan keuangan dan keputusan final tentang mental. Baik mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Saat memutuskan untuk tidak berhutang bank lagi adalah keputusan final dan mulai menggali modal dari laba. Sementara suplier juga dapat digali sebagai sumber modal dan sumber perputaran usaha.
Banyak jalan menuju sukses.
Salam 5 jari
*) Penulis Adalah Mentor AMRI
No Comments