Social Links
AMRI | PRAKTEK (yang) TAK SEMUDAH TEORI
19552
post-template-default,single,single-post,postid-19552,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

PRAKTEK (yang) TAK SEMUDAH TEORI

Oleh: Alamudi Mentor AMRI

Abang dan Non sekalian, seringkali kita dihadapkan pada kondisi yang demikian, praktek yang kita lakukan tidak semulus teori yang kita dapatkan, yang pada akhirnya membuat kita frustasi, putus asa dan berhenti tidak ingin melanjutkan.

Fenomena ini banyak terjadi pada pebisnis pemula dan umkm, diawali dengan semangat yang menggebu-gebu ingin terjun ke dunia usaha, berbekal ilmu (teori) yang mereka dapatkan dari membaca, ikut pelatihan, seminar, dan sumber-sumber teori lainnya.

Ketika sudah praktek di lapangan, ternyata jauh angan-angan dari kenyataan, toko sepi pelanggan, penjualan tidak sesuai target yang diharapkan, belum lagi tingkah laku karyawan yang tidak amanah, tidak betah, dan lain sebagainya, padahal sudah banyak dana yang dikeluarkan, bahkan tidak jarang mereka mendapatkan modal usaha dengan meminjam ke Bank…(Nah Lho).

Apa iya ilmunya yang salah?

Berbisnis adalah proses, tidak ada yang instan, semua perlu menapaki satu persatu anak tangga kesuksesan, walaupun tidak menjamin ketika sudah sukses tidak akan tersungkur lagi ke bawah, seperti halnya kisah bisnis Suhu Wan Muhammad yang tertulis di artikel ritelnews.com yang berjudul “Saat dream membesar, maka masalah akan menjadi kecil”.

Disana beliau menceritakan bahwa beliau pernah sukses dengan puluhan cabang toko Toysmart, namun kemudian harus mengalami kebangkrutan pada tahun 2005-2006.

Berbekal sebuah mimpi besar (Big Dream), beliau menapaki kembali anak tangga sebelum akhirnya dapat kembali sukses dengan bisnis barunya Idolmart yang kini telah memiliki 80 cabang yang tersebar di pulau Jawa.

Ibarat sebuah pohon, bisnis harus memiliki akar yang kuat, menghujam jauh kedalam tanah, sehingga kuat menahan terpaan angin dan badai yang menerpa.

Untuk memiliki akar bisnis yang kuat dibutuhkan proses, ada proses belajar yang dilakukan sebelum praktek, walaupun seringkali yang kita temui proses belajar yang dilakukan berbarengan dengan bisnis yang kita lakukan (learning by doing), tambal sulam sana dan sini sambil terus melakukan penyempurnaan seperti makna filosofi Jepang Kaizen yang berarti perbaikan terus menerus (continuous improvement), karena tidak semua bisnis bisa di “COPY and PASTE” kan, seringkali kita harus memodifikasi agar sesuai dengan jenis bisnis yang kita jalankan.

Sekedar mengingatkan, pilihan anda ‘BERBISNIS’ sudah benar (you are on the right track) tinggal fokus dan kesabaran yang harus dikuatkan, apalagi bagi kita yang baru memulai usaha dalam kondisi sudah berkeluarga, sudah memiliki anak, sudah punya pengeluaran yang pasti (kata orang Depok: Argo nye udeh jalan terus hehe) pasti akan sangat berbeda dalam menghadapi resiko yang dibanding mereka yang masih lajang (blm berkeluarga).

Mari kuatkan tekad, semangat dan kesabaran, bila pemasukan masih kecil, jangan besar pasak daripada tiang, dahulukan kebutuhan dari keinginan, sehingga cash flow usaha tetap terjaga, Seperti ungkapan yang sering disampaikan oleh Suhu Wan “Profit is the King, But Cash Flow is the King Kong”.

Sukses untuk kita semua, mari kita belajar bersama dan jadikan AMRI sebagai rumah kita semua dalam mencapai kesuksesan, dan berbagi ilmu pada sodara-sodara kita yang membutuhkan, sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Akhir kata wassalamu’alaikum Wr. Wb.

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment