12 Okt PELAJARAN DARI BANGKITNYA APPLE OLEH STEVE JOBS
Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner 85 outlet Idolmart)
Steve Jobs kembali ke Apple pada tahun 1997 setelah tersingkir pada tahun 1985 secara “menyakitkan” dari perusahaannya sendiri. Selama 12 tahun tanpa Steve Jobs, Apple dengan sederet CEO terpuruk, imbal hasil saham kumulatif jatuh lebih dari 60 persen dibawah pasar secara umum.
Saat itu hanya sedikit yang percaya Apple bisa kembali berjaya. Ketika ditanya apa yang akan dilakukan dengen Apple, Michael Dell (pendiri Dell Computers) mengatakan,”Apa yang akan saya lakukan? Saya akan menutupnya dan mengembalikan uang para pemegang saham”.
Lima tahun berikutnya (1997-2002), Steve Jobs berhasil membuat Apple “turnarround” mengalahkan bursa saham umum sebesar 127 persen dan akhirnya menjadi perusahaan tehnologi yang paling bernilai di dunia pada tahun 2010.
APA YANG DILAKUKAN STEVE JOBS SAAT MEMBAWA APPLE KEMBALI KE JALAN YANG BENAR?
Steve Jobs tidak langsung menciptakan iPod, iTunes, iPhone dan iPad, tetapi yang pertama kali dia lakukan adalah meningkatkan DISIPLIN. Tanpa disiplin tidak ada peluang untuk melakukan kerja kreatif dan membenahi keuangan Apple secara mendasar.
Dia meningkatkan efisiensi operasional, menurunkan struktur biaya secara keseluruhan, membuat orang berfokus pada etos kerja siang malam yang menjadi ciri Apple pada tahun-tahun awalnya. Rasio kas terhadap hutang lancar (Cash Ratio) berlipat dua dan kemudian berlipat tiga. Utang jangka panjang menciut dua pertiaga dan rasio liabilitas terhadap modal ditekan menjadi lebih dari setengah.
TIADA KREATIF TANPA DISIPLIN, TIADA INOVASI TANPA DISIPLIN FANATIK.
Produk yang petama kali digarap Steve Jobs justru produk yang sudah ada satu dasawarsa sebelumnya, PC Macintos. Apple mulai meluncurkan Power Mac, Power Book dan iMac. Jadi pertama kali Steve Jobs tidak mengejar “hal besar berikutnya”, melainkan memanfaatkan secara optimal hal besar yang sudah dimilikinya.
Tahun 2001, 4 tahun setelah Steve Jobs balik ke Apple barulah iPod diciptakan dan dilanjutkan dg produk-produk yang akhirnya mengantarkan Apple menjadi perusahaan terbesar dg iPhone dan iPad dll.
Apple sudah nyaris “mati” karena akan dijual kepada perusaahaan lain, sebelum akhirnya Steve Jobs kembali memimpin. Jika saja Steve Jobs tidak kembali dan Apple diakuisisi, kemungkinan besar tidak akan ada iMac, iPod atau iPad.
Gabungan dari disiplin fanatik dan kreatifitas empiris yang membuat Apple menjadi sukses. Namun keduanya masih belum cukup, jika Anda terpental dari permainan maka disiplin dan kreatifitas tidak ada artinya. Apple beruntung tidak menjadi binasa sebagai perusahaan mandiri. KITA HANYA BISA BELAJAR DARI KESALAHAN JIKA KITA MASIH SELAMAT.
(Tulisan ini disadur dari buku GOOD TO GREAT)
Saat pertama kali bangkit dari kebangkrutan bisnis saya yang pertama (Toysmart 36 cabang) tahun 2007, kami tidak langsung membuka outlet Idolmart yang persis seperti hari ini. Kami tidak langsung melakukan inovasi produk, tetap menjual produk yang sama seperti di Toysmart, yakni mainan.
Selama 1 tahun pertama yang kami lakukan hanya membuka 1 toko…..meningkatkan disiplin, membentuk tim, mambangun sistem dan membenahi cash flow. Setelah itu barulah mulai membuka cabang kedua, sambil terus melakukan perbaikan dan penguatan bisnis tahap demi tahap, sampai 85 toko hari ini.
No Comments