Social Links
AMRI | pedagang asongan menjadi milyarder
pedagang asongan, milyarder, dream, bisnis sukses, ritel, Wan MH, AMRI, ritelnews
17807
post-template-default,single,single-post,postid-17807,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

PEDAGANG ASONGAN YANG MENJADI MILYARDER

Oleh : Wan MH *)

Saya dilahirkan di sebuah kampung di Riau dari sebuah keluarga yang kurang mampu. Saat bersekolah di SMK saya menjadi pedagang asongan dengan berjualan rokok pada malam hari di sebuah bioskop misbar (gerimis bubar). Karena ibu saya adalah seorang pedagang sayur di pasar dengan penghasilan yang sangat terbatas saya harus mencari duit sendiri untuk biaya sekolah.

Uniknya waktu itu “modal” kami gunakan bergantian, ibu saya berdagang sayur dari pagi sampai siang, keuntungan digunakan untuk makan kami sehari-hari sedangkan modalnya diserahkan pada saya. Sore hari saya belanja rokok untuk berdagang asongan pada malam hari, setelah pulang kembali “modal” saya serahkan pada ibu lagi, keuntungan berdagang saya gunakan untuk biaya sekolah, demikianlah seterusnya.

Repotnya jika rokok sudah saya beli pada sore hari kemudian hujan. Maklum dagang asongan di bioskop misbar tentu saja jika hujan filem tidak jadi diputar, walaupun diputar yang menonton sangat sedikit. Jika saya tidak bisa berdagang malam itu tentu saja “modal” untuk ibu berdagang sayur besok pagi tidak ada, artinya makan kami besok menjadi terancam. Dari sore sampai malam saya duduk berdua dengan ibu saya berharap dan berdoa hujan bisa berhenti dan saya bisa berdagang. Saya sangat sedih melihat air mata ibu saya berlinang menatap curah hujan yang tidak kunjung reda.

Akhirnya jam 9 malam hujan berhenti saya nekat pergi ke bioskop. Di bioskop ternyata sudah bubar dan penonton juga sangat sedikit. Saya tetap bertahan sampai tengah malam agar bisa mengumpulkan modal untuk ibu saya. Sampai di rumah uang modal yang jumlahnya jauh dari biasanya saya serahkan pada ibu, saya merasa bersalah karena modal ibu untuk besok sangat sedikit. Ibu saya sebaliknya juga merasa bersalah karena anaknya “terpaksa” pulang larut malam agar dia tetap bisa berangkat berdagang besok pagi.

Saat itu saya berjanji, lebih tepatnya bersumpah, saya akan terus berjuang semampu saya agar saya tidak melihat air mata ibu saya bercucuran lagi, saya akan berusaha sekuat tenaga agar ibu saya kelak tidak lagi menderita seperti saat itu. Bahkan saya bermimpi agar saya mampu mengangkat ekonomi keluarga besar saya kelak di kemudian hari.

Saat ini dengan memiliki 66 cabang toko dan memperkerjakan hampir 700 orang karyawan, Alhamdulillah tentu saja ibu saya tidak perlu berdagang sayur lagi. Banyak adik dan ponakan saya juga saya dorong untuk memiliki toko (bisnis) sendiri. Selain mereka bisa menghidupi keluarga sendiri mereka juga bisa membantu orang lain dengan menyediakan lapangan kerja, bahkan seorang adik saya sudah memiliki 15 orang karyawan.

Dream (impian) untuk berhasil, yang bukan hanya kesuksesan untuk diri sendiri melainkan untuk keluarga besar dan membantu sebanyak mungkin orang lain inilah yang menjadi pelecut dan “bahan bakar” saya untuk selalu terus berjuang, tidak mengenal kata menyerah. Jika kadang-kadang saya sedikit merasa “lelah” dalam berusaha, maka ingatan pada air mata ibu saya yang otomatis membuat air mata saya juga berlinang akan langsung “membakar” dan memberi semangat luar biasa pada diri saya. Masih ada keluarga besar saya dan banyak orang lain yang memerlukan uluran tangan merupakan asupan bagi energi saya.

Setelah lulus kuliah tahun 1995 sempat bekerja di beberapa perusahaan sebagai seorang akuntan, akhirnya saya mulai berdagang lagi membuka kios kecil pada tahun 2000. Pada tahun 2005 setelah memiliki 36 minimarket saya mengalami kebangkrutan bisnis dan meninggalkan hutang lebih dari Rp 1 milyar. Lagi-lagi dream yang saya miliki menjadi penyelamat saya untuk bangkit dan tidak mengenal kata menyerah. Bahkan jika sebelum bangkrut dream saya memiliki 100 toko, maka di saat bangkrut dream saya membesar dengan target memiliki 10 ribu toko. Setelah berjuang selama 2 tahun di titik nadir akhirnya tahun 2007 saya kembali bangkit dan Alhamdulillah terus berkembang sampai saat sekarang.

*) Ketua Umum AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia) & owner Idolmart

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
3 Comments
  • Ropiudin Ropiudin
    Posted at 19:59h, 10 September Balas

    sangat instpiratif Suhu Wan

  • Tri Anggono
    Posted at 23:54h, 15 September Balas

    sudah baca beberapa kali, tetap saja terus menginspirasi, menyemangatii

    • HERU KS
      Posted at 05:08h, 07 Desember Balas

      Betul bang tri, sudah Kali ke berapa saya baca tetapi tetap menginspirasi Dan membakar semangat, luar biasa suhu wan

Post A Reply to Tri Anggono Cancel Reply