14 Nov Online to Offline (O2O) Masa Depan Bisnis Ritel (bag 1)
oleh : Ivan Dipa *)
Dunia ritel terguncang di tahun 2017, beberapa perusahan ritel besar menutup gerai nya.
7-eleven menutup total 175 gerai
Ramayana menutup 8 gerai
Matahari menutup 2 gerai
Apakah yang menyebabkan para raksasa ritel ini bertumbangan ?
Banyak tuduhan mengarah kepada peralihan pola belanja masyarakat secara online.
Tapi benarkah itu penyebab utamanya ?
Jika iya benar, bagaimana mensiasatinya agar tidak terjadi dengan bisnis kita?
Temukan jawaban pada tulisan bersambung ini
Sebelum menjawab rangkaian pertanyaan di atas kita bahas dulu beberapa fakta berikut.
Dinamika dunia ritel saat ini melahirkan dikotomi Ritel Offline dan Ritel Online.
Ritel Offline menggantikan istilah ritel konvensional yang proses bisnisnya hanya terjadi di toko fisik. Sedangkan Ritel Online sebaliknya proses bisnis terjadi hanya di internet.
Sebelum marak nya penggunaan internet, kita hanya mengenal ritel konvesional seperti warung, toko, minimarket, supermarket dan hypermarket.
Fenomena perkembangan teknologi melahirkan tren ritel online yang di awali Amazon di Amerika tahun 1995 dan Alibaba di Tiongkok pada tahun 1999. Kini kurang lebih 20 tahun berkiprah kedua nya menjadi raksasa ritel online bukan hanya di negara masing-masing tapi seluruh dunia.
Menurut data ketum AMRI suhu Wan dalam sebuah diskusi di AMRI University, walau secara Omset Amazon jauh lebih besar, tapi Profit nya masih kalah sama Alibaba.
Kehadiran Amazon terbukti merubah peta ritel di Amerika. Info dari teman yang bisa dipercaya ratusan mall di Amerika di tahun 2017 ini terpaksa tutup tergilas oleh Amazon. Alasan utama yang diakui para peritel offline tersebut, adalah biaya operasional yang lebih tinggi dan fleksibilitas terbatas dibanding peritel online seperti Amazon.
Kisah seperti ini mungkin saja suatu hari terjadi di tanah air hanya masalah waktu saja.
Bagaimana dengan ritel online di tanah air?
Fenomena geliat ritel online digawangi oleh duo marketplace pemimpin pasar CC Tokopedia dan Bukalapak, yang lahir beriringan di tahun 2009 dan 2010. Nilai transaksi tokopedia di pertengahan tahun 2017 ini di klaim Rp 1 triliun sebulan dari sumber internal mereka. Sementara CEO Bukalapak pernah menyebutkan dalam sebuah rilis, nilai transaksi harian Bukalapak tahun 2017 sudah mencapai Rp 50 milyar, tapi mengakui masih berada di peringkat 3 skala nasional.
Mari kita lihat secara nasional, berdasarkan data dari berbagai sumber, total nilai transaksi ritel online berada di kisaran Rp 65-81 triliun per tahun. Secara nominal memang masih sangat kecil yaitu hanya 1,4-1,8% dibanding total transaksi ritel yang mencapai Rp 4.500 triliun per tahun.
Hal ini selaras dengan yang pernah dibahas suhu Wan dalam tulisan beliau “KEYAKINAN VERSUS FAKTA DI RITEL ONLINE” di channel AMRI. Faktanya memang valuasi pasar ritel online saat ini masih kecil. Jika anda belum membacanya silahkan klik » telegram.me/ritelnews
Lalu .. ?
Apa makna dari fakta angka-angka di atas?
Apa pendapat para peritel offline besar?
Gimana sikap pemerintah?
Gimana kita bisa belajar dari kolaps nya Kodak yang “mati” oleh “peluru” sendiri?
Gimana nasibnya Taksi konvensional yang coba gunakan peluru yang sama?
Tunggu lanjutannya di bagian 2
No Comments