01 Jun NASIB RITEL TRADISIONAL?
Oleh: Adjib Mada Winata *)
Tahun 2016 ke bawah sangat gencar isu ritel tradisional vs modern. Kabarnya, 1 ritel modern bisa membunuh 5 sd 10 toko ritel tradisional.
Awal tahun 2017 saja, jumlah gerai dua raksasa ritel terkenal tanah air yaitu Indo 13,9 ribu gerai dan Alfa 12,5 ribu gerai atau total 26,4 ribu gerai. Jumlah itu belum termasuk toko ritel modern lainnya. Artinya 264 ribu (bila diasumsikan 10 toko tradisional yang kena imbas) lebih toko ritel tradisional tutup sampai awal Tahun 2017.
Di tengah-tengah bergugurannya ritel tradisional pada akhir Tahun 2016, berdiri sebuah organisasi ritel bernama Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia atau disingkat AMRI yang diprakarsai oleh Suhu Wan, penulis dan beberapa pegiat ritel yang prihatin akan nasib para peritel tradisional. AMRI yang salah satu nilai intinya menjunjung tinggi persatuan anggota tanpa membedakan ras, agama, suku dan golongan mendapatkan sambutan hangat dari para peritel tradisional dan mandiri (non jaringan atau para pemodal besar).
Bisa dikatakan bahwa AMRI yang mengurusi ritel tradisional dan mandiri (RTM) adalah sparing partner dari APRINDO yang banyak membawahi ritel jaringan modern (RJM) atau ritel para pemodal besar seperti Alfamart dan Indomaret.
Memasuki Tahun 2017, dunia ritel (modern) mulai dihantam kabar melemahnya pertumbuhan ritel karena dipicu krisis ekonomi global yang sudah mulai melambat sejak Tahun 2016. Sedangkan kabar ritel tradisional sudah tak tahu lagi bagaimana nasibnya.
Akhirnya pada pertengahan Tahun 2017 berita duka mulai terdengar dari perusahaan ritel (modern) dunia maupun tanah air. Beberapa perusahaan ritel terkenal tumbang. Di tanah air sebut saja Seven Eleven, beberapa gerai Matahari Departemen Store, Lotus dan lain-lain, menyusul ritel tradisional yang sudah lebih dulu berguguran.
Ritel (modern) tanah air Tahun 2017 bergeliat dengan nuansa baru dengan hadirnya ritel modern dengan label Syariah di perkotaan seperti 212 Mart dan Kitamart. Walaupun banyak yang memandang bahwa ritel berlabel Syariah ini bernuansa politik, namun sambutan dari masyarakat muslim perkotaan cukup antusias. Tanggal 6 Januari 2018 sudah memiliki 61 gerai, namun belum diketahui laba atau rugi dan omset keseluruhan yang diperoleh pada satu tahun setelah berdiri.
Tahun 2017 yang berlanjut pada Tahun 2018 berita duka terus berlanjut bagi para peritel (modern). Laporan Tahun 2017 memperlihatkan bahwa laba Alfamart anjlok 50% dari laba tahun sebelumnya. Teman sejolinya yaitu Indomaret kabarnya lebih besar lagi.
Bagaimanakah nasib peritel tradisional pada Tahun 2017? Tidak ada yang tahu pasti.
Yang menarik lagi di bulan Mei Tahun 2018 ini adalah berita hadirnya Umat Mart di pesantren-pesantren yang diprakarsai oleh HIPMI dan APRINDO. Kabarnya para peritel besar siap bekerjasama terutama dalam distribution channel.
Kalau benar Umatmart distribution channelnya nanti di supply oleh para peritel besar, sebagaimana ritel modern berlabel syariah perkotaan (lebih dulu berdiri) yang kabarnya juga di supply oleh perusahaan peritel bermodal besar, lalu siapa yang diuntungkan dari munculnya ritel modern berlabel Syariah baik di perkotaan maupun di daerah-daerah pedesaan non perkotaan? Apakah yang untung para peritel besar yang sebenarnya saat ini baru limbung ataukah para peritel tradisional?
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Sekjen DPP AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia)
No Comments