Social Links
AMRI | MONOPOLI BERPIKIR TERBALIK
18463
post-template-default,single,single-post,postid-18463,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MONOPOLI BERPIKIR TERBALIK

Oleh: Hadi Supriono *)

Jika menyusuri jalan dari Jogja hingga Pacitan, maka akan disuguhi hamparan tanah berbatu gamping di sepanjang perjalanan.

Bagi penambang, mungkin berfikir mendirikan pabrik batu gamping. Jika petani, mungkin merencanakan perkebunan jati yang luas.

Bagi pebisnis tour & travel, mungkin membuat paket tour goa karst karena banyak goa-goa yang indah.

Bagi yang memiliki background ilmu kebumian, seperti saya, ini tanda, jutaan tahun yang lalu, adalah laut dangkal tempat tumbuhnya terumbu karang yang sekarang terangkat menjadi daratan.

Latar belakang dan kebiasaan orang akan menentukan bagaimana dia memandang sesuatu. Bagi wirausaha, harus mencoba meninggalkan posisi kita. Mencari sudut lain dalam ruang pandang untuk menemukan permata dari balik data maupun peristiwa.

Awal tahun 2017, terjadi kehebohan nasional yang disebabkan harga cabe melambung tinggi. Stasiun TV nasional terus menayangkan berita ini. Kegelisahan ibu-ibu rumah tangga semakin menjadi.

Di beberapa tempat, harganya menyentuh angka 200.000/kg. Biasanya hanya 30.000 – 40.000/kg.

Saat itu saya baru memulai usaha ritel warung sayur mayur dan kebutuhan dapur. Saya juga tidak luput dari kebingungan. Harga di pasar sangat tinggi, barang langka. Setiap barang datang dari daerah langsung jadi rebutan para pedagang.

Sebagai pemula, saya banyak bertanya kepada pedagang-pedagang senior. Namun, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk meraup untung sebanyak-banyaknya. “Barang ga ada, berapa pun di jual pasti laku”, kata salah seorang dari mereka.

Di warung saya yang masih sepi, ibu-ibu yang belanja tak kalah hebohnya. Mereka mengeluh, mereka marah tanpa tahu harus mengeluh dan marah ke siapa.

Saya berbicara dan mencoba memahami keluhan ibu-ibu. Mencoba memahami dengan berganti posisi menjadi pelanggan. Mencoba bersahabat dengan gejolak harga dan berjalan beriringan dengannya.

Akhirnya, saya putuskan untuk menjual cabe di warung seharga kulakan di pasar induk. Saat itu selisihnya mencapai 50.000 – 60.000/kg. Tujuannya agar ibu-ibu mendapatkan harga yang relatif murah di tengah melambungnya harga cabe.

Perubahan harga ini direspon dengan sangat positif oleh para pelanggan, apalagi mereka masih sering mendengar berita di TV bahwa harga cabe masih belum turun.

Ibu-ibu yang merasa senang, bercerita ke tetangga dan teman-temannya. Kekuatan word of mouth marketing bekerja hebat saat itu. Hari demi hari, pelanggan yang datang semakin bertambah banyak.

Warung saya yang kecil bahkan mengharuskan ibu-ibu antri hingga 2 baris. Hanya dalam 10an hari, omset warung saya naik hingga lebih dari 500%.

Selanjutnya, saya selalu mencoba berpindah sudut pandang ketika terjadi gejolak harga. Seperti pada saat harga garam dan bawang putih melambung di pasaran. Alhamdulillah, selalu memberikan hasil yang sama.

Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor AMRI

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment