Social Links
AMRI | ritel
ritel
ritel
18073
post-template-default,single,single-post,postid-18073,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MERANCANG MASA DEPAN RITEL INDONESIA (Bagian 2)

Oleh: Adjib Mada *)

Desa memegang peranan penting masa depan ritel di Indonesia. Karena pada kenyataannya desa mempunyai segala produk yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Segala produk dasar (primer) terutama makanan minuman yang dibutuhkan orang kota ada tersedia di desa. Atau bisa dikatakan bahwa orang desa bisa hidup mandiri tanpa orang kota, tapi sebaliknya, orang kota tidak bisa hidup tanpa supply produk makanan dan minuman dari desa. Bisa dikatakan demikian, karena ujung dari segala kebutuhan dasar manusia untuk hidup adalah masalah perut, masalah makan dan minum. Dan di desa bisa kita dapatkan itu semua seperti: beras, ketela, kedelai, jagung, air bersih, sayur-sayuran, buah-buahan dan lain-lain.

Coba kalau orang desa yang secara defacto merupakan owner dari segala produk kebutuhan untuk hidup ini di beri edukasi untuk berkumpul dan berorganisasi serta membentuk kelompok dagang desa. Dan semua produk yang ada didesa tersebut keluarnya hanya melalui satu pintu yaitu kelompok dagang desa tersebut, dampaknya sangat luar biasa bukan? Apa saja?

Pertama, memutus mata rantai tengkulak yang selama ini membuat orang desa tidak bisa menikmati untung. Selama ini orang desa menjadi owner yang miskin dari makanan dan minuman yang mereka punyai dari sawah-sawah mereka, dari ladang-ladang mereka dan dari kebun-kebun mereka.

Kedua, pabrikan-pabrikan yang membutuhkan bahan baku untuk proses produksi akan datang ke desa. Posisi strategis ini tentunya akan menaikkan daya tawar harga bahan baku yang dibutuhkan pabrikan tersebut. Lebih-lebih kalau bahan baku yang dibutuhkan pabrikan-pabrikan itu adanya hanya di desa tersebut, terjadilah monopoli desa atas pabrikan-pabrikan (industri), hebat bukan? Ini hakekatnya sama dengan ilmu monopoli yang di ajarkan suhu Wan MH (Ketum Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia atau disingkat AMRI). Orang desa seakan bisa bilang pada pabrikan begini: “Lu beli produk kami dengan harga dan ketentuan kami atau Lu (pabrikan-pabrikan) akan berhenti beroperasi karena tidak mendapatkan bahan baku dari kami.. ayo pilih mana?”

Ketiga, menarik modal uang (cash fund) yang selama ini terkumpul di kota-kota, ditarik menuju desa-desa di seluruh Indonesia, maka sangat mungkin terwujud cita-cita para pendiri bangsa ini, yaitu: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selaras juga dengan Visi AMRI yaitu turut serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Keempat, menekan urbanisasi dari desa ke kota, dikarenakan desa sudah makin makmur, menjadikan generasi muda betah untuk tinggal dan memajukan desa-desanya.

Lagi-lagi inilah sebuah lahan yang selama ini tidak terjamah asosiasi ritel (dagang eceran) lain semisal APRINDO, yang faktanya lebih bermesraan dengan peritel besar, peritel modern dan perkotaan. Inilah momen tepat bagi AMRI untuk lebih kedepan lagi dalam memperjuangkan ritel tradisional dan mandiri (RTM) terutama di daerah-daerah, di desa-desa seluruh Indonesia.

Lalu bagaimana peran ritel tradisional dan mandiri di desa-desa menghadapi era digital? (Bersambung)

*) Penulis adalah Sekjen Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia (AMRI)

Suhu Wan MH
95ropi@gmail.com
No Comments

Post A Comment