13 Nov Merancang Masa Depan Ritel Indonesia (Bagian 1)
Oleh: Adjib Mada *)
Bangsa Indonesia sejak dulu kala, sejak jaman kerajaan, terkenal sebagai negara yang kaya raya. Kaya berbagai sumber daya alam, baik darat maupun laut. Hampir di semua sudut wilayah di Indonesia terdapat kekayaan sumber daya alam melimpah ruah. Tak ada negara di dunia ini yang sumber daya alamnya melebihi Indonesia.
Tidak hanya sumber daya alam saja, Indonesia adalah negara yang amat indah. Terbentang lautan luas, hamparan padi menguning dan eloknya perbukitan dan gunung-gunung yang menghijau. Sekali lagi ini hanya ada di Indonesia. Bukan di Timur Tengah, di Eropa maupun di belahan bumi manapun. Maka tidak salah, bila banyak yang bilang bahwa Indonesia laksana surga yang jatuh ke muka bumi.
Indonesia juga mempunyai sejarah panjang perdagangan yang mendunia. Pada masa Raja Fir’aun (jauh sebelum Agama Kristen dan Agama Islam lahir) sudah terjadi perdagangan internasional di Indonesia. Pun diceritakan pada saat Raja Fir’aun meninggal, jasadnya di awetkan memakai bahan pengawet bernama barus (kapur barus), berasal dari Indonesia. Maka sah dikatakan bahwa saat itu, perdagangan di Indonesia sudah mendunia, dikuatkan pula adanya pelabuhan internasional di daerah Barus, Tapanuli, Sumatra Utara, dengan produk dagangan utama berupa kapur barus, sebuah produk yang saat itu harganya setara dengan harga emas.
Daerah Barus menyimpan jejak-jejak perdagangan hebat di bumi nusantara ini. Dilanjutkan jaman kerajaan-kerajaan besarpun demikian (akan diulas di artikel lain: “Jejak-Jejak Ritel Jaman Kerajaan”).
Dalam perjalanannya, kekayaan alam di Indonesia dan indahnya bumi pertiwi ini membuat banyak negara-negara di dunia iri dan ingin menguasainya. Coba ingat jaman imperialisme Belanda menggunakan kedok VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yaitu persekutuan dagang Belanda yang mempunyai monopoli perdagangan di Asia yang pada akhirnya mencoba menjajah bumi pertiwi ini dan berhasil.
Kenapa kita kalah bersaing dengan VOC dalam perdagangan, tentu salah satunya, karena bangsa kita tidak pintar dalam dunia perdagangan. Suatu fakta membuktikan bahwa kekuatan ilmu dagang VOC, mengalahkan kekuatan modal para raja-raja di Nusantara.
Kekuatan ilmu dagang sebagaimana VOC “contohkan”, jika disikapi positif konteks kekinian, menunjukkan peran strategis usaha-usaha untuk mengupgrade ilmu dagang para pedagang terutama para peritel tradisional. Sudah sangat mendesak kiranya pemerintah untuk mensupport usaha-usaha memajukan dunia perdagangan terutama ritel tradisional agar berkembang pesat dan bersaing.
No Comments