Social Links
AMRI | ritel
ritel
ritel
18075
post-template-default,single,single-post,postid-18075,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

Merancang Masa Depan Ritel Indonesia (Bagian 1)

Oleh: Adjib Mada *)

Bangsa Indonesia sejak dulu kala, sejak jaman kerajaan, terkenal sebagai negara yang kaya raya. Kaya berbagai sumber daya alam, baik darat maupun laut. Hampir di semua sudut wilayah di Indonesia terdapat kekayaan sumber daya alam melimpah ruah. Tak ada negara di dunia ini yang sumber daya alamnya melebihi Indonesia.

Tidak hanya sumber daya alam saja, Indonesia adalah negara yang amat indah. Terbentang lautan luas, hamparan padi menguning dan eloknya perbukitan dan gunung-gunung yang menghijau. Sekali lagi ini hanya ada di Indonesia. Bukan di Timur Tengah, di Eropa maupun di belahan bumi manapun. Maka tidak salah, bila banyak yang bilang bahwa Indonesia laksana surga yang jatuh ke muka bumi.

Indonesia juga mempunyai sejarah panjang perdagangan yang mendunia. Pada masa Raja Fir’aun (jauh sebelum Agama Kristen dan Agama Islam lahir) sudah terjadi perdagangan internasional di Indonesia. Pun diceritakan pada saat Raja Fir’aun meninggal, jasadnya di awetkan memakai bahan pengawet bernama barus (kapur barus), berasal dari Indonesia. Maka sah dikatakan bahwa saat itu, perdagangan di Indonesia sudah mendunia, dikuatkan pula adanya pelabuhan internasional di daerah Barus, Tapanuli, Sumatra Utara, dengan produk dagangan utama berupa kapur barus, sebuah produk yang saat itu harganya setara dengan harga emas.

Daerah Barus menyimpan jejak-jejak perdagangan hebat di bumi nusantara ini. Dilanjutkan jaman kerajaan-kerajaan besarpun demikian (akan diulas di artikel lain: “Jejak-Jejak Ritel Jaman Kerajaan”).

Dalam perjalanannya, kekayaan alam di Indonesia dan indahnya bumi pertiwi ini membuat banyak negara-negara di dunia iri dan ingin menguasainya. Coba ingat jaman imperialisme Belanda menggunakan kedok VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yaitu persekutuan dagang Belanda yang mempunyai monopoli perdagangan di Asia yang pada akhirnya mencoba menjajah bumi pertiwi ini dan berhasil.

Kenapa kita kalah bersaing dengan VOC dalam perdagangan, tentu salah satunya, karena bangsa kita tidak pintar dalam dunia perdagangan. Suatu fakta membuktikan bahwa kekuatan ilmu dagang VOC, mengalahkan kekuatan modal para raja-raja di Nusantara.

Kekuatan ilmu dagang sebagaimana VOC “contohkan”, jika disikapi positif konteks kekinian, menunjukkan peran strategis usaha-usaha untuk mengupgrade ilmu dagang para pedagang terutama para peritel tradisional. Sudah sangat mendesak kiranya pemerintah untuk mensupport usaha-usaha memajukan dunia perdagangan terutama ritel tradisional agar berkembang pesat dan bersaing.

Secara geo ekonomi, sumber-sumber daya alam di Indonesia untuk saat ini banyak berada di desa-desa, di pelosok-pelosok dan daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Beras, sayur-mayur, kopi, rempah-rempah dan sumber daya alam lainnya, semua berasal dari desa dan tidak ada yang berasal dari kota.

Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia (AMRI) sudah tepat memosisikan diri bersama masyarakat ritel tradisional dan mandiri (non jaringan) dengan salah satu programnya berupa edukasi ritel atau dagang eceran (lihat edukasi yang dilakukan AMRI melalui web www.ritelnews.com). Lahan edukasi ritel tradisional inilah, sebuah lahan yang selama ini tidak di jamah asosiasi ritel lain semisal APRINDO, yang faktanya lebih bermesraan dengan peritel besar, peritel modern dan perkotaan. Inilah momen tepat bagi AMRI untuk lebih kedepan lagi dalam memperjuangkan ritel tradisional dan mandiri (RTM) di daerah-daerah, di desa-desa seluruh Indonesia agar maju. (Bersambung)

*) Penulis adalah Sekjen Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia (AMRI)

Suhu Wan MH
95ropi@gmail.com
No Comments

Post A Comment