Social Links
AMRI | MENGELOLA DEAD STOCK
18629
post-template-default,single,single-post,postid-18629,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENGELOLA DEAD STOCK

Oleh : Nasrulloh *)

Dead stock itu uang mati. Karena barang tidak berbutar kembali menjadi uang. Uang mati, bisnis pun mati pula. Bagaimana mengelolanya?

Definisikan dulu makna dead stock dalam bisnis kita. Apakah barang yang tidak terjual sama sekali selama sebulan, dua bulan, 3 bulan? Ini harus jelas agar bisa dibuatkan aplikasi  komputer untuk mengendalikannya.

Sebelum membeli barang. Jangan asal beli. Pertimbangan trend dan perilaku. Gunakan pengalaman masa lalu. Jangan tergiur oleh aneka discount yang besar.

Dead stock bisa jadi hanya persoalan data saja. Data komputer ada, fisiknya tidak ada. Lakukan stock opname, untuk mengetahui pencurian, salah penginputan, dan tertukar.

Berapa pun nilai dead stock  harus menjadi uang kembali. Bisa promosi. Retur ke suplier. Jual dengan harga impas atau rugi. Daripada dimusnahkan atau didiamkan.

Negoisasi dengan suplier harus ada klausul bisa diretur. Bila tidak bisa, minta support dana atau potongan harga unreturnable.

Buat laporan aging atau umur stock, agar bisa memonitor potensi dead stock. Lebih baik lagi bila dipadukan dengan laporan expired atau umur barang agar tahu potensi pemusnahan barang.

Bisa jadi dead stock karena barangnya rusak. Buat laporan terpisah antara good stock dengan bad stock.

Setiap perpindahan ke bad stock harus ada kontrol dan dicatat penyebabnya. Agar tahu apakah karena karakter barang, handling internal yang salah, atau karena turnovernya rendah.

Barakallah
Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Baksolahar

Tags:
, ,
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment