Social Links
AMRI | MENGELOLA CASH INFLOW
18822
post-template-default,single,single-post,postid-18822,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENGELOLA CASH INFLOW

Oleh: Nasrulloh *)

Saat saya membedah sebuah bisnis. Sang pemilik bisnisnya bingung. bisnisnya untung tapi bingung bayar gaji dan hutang dagang? Uangnya lari kemana?

Yang harus dipahami, bisnis untung belum tentu memiliki uang cukup. Karena itu, mengelola bisnis bukan sekedar mencari untung tetapi juga mempercepat uang menjadi uang kembali. Kuncinya mempercepat uang menjadi uang.

Uang sering tersendat dibeberapa titik, yaitu:

1. Pemesanan barang.
Jeda waktu pemesanan dengan barang yang diterima. Semakin lama, maka semakin banyak barang yang dibeli dan mengendap. Karena kita harus mencadangkan buffer stock untuk antisipasi penjualan yang tiba-tiba.

Jadi memilih suplier yang kompeten pun bagian dari pengelolaan Cash inflow. Jangan asal-asalan.

2. Salah menentukan jumlah barang dan item barang yang dibeli.
Sering kali kecepatan barang yang dijual dengan barang yang dibeli tidak sama. Kecepatan barang masuk lebih tinggi dari yang terjual. Akhirnya barang menumpuk. Uang jadi mengendap dibarang dalam waktu yang lama.

Solusinya, analisa pemesanan barang harus kuat. Hitung perputaran barang atau turn over inventori secara cermat dan tepat. Matangkan saat akan membuat purchase order (PO).

Solusi berikutnya, bagaimana membuat strategi agar barang cepat keluar atau terjual? Perlu beberapa informasi tentang stock:
1. Stock Slow moving
2. Stock Unmoving
Lakukan sesuatu untuk stock ini.

3. Mengendap lama di piutang usaha.
Jangan asal jual barang ke konsumen. Kenali konsumen secara seksama. Jangan terlalu terbuai dengan kata-katanya. Perlu diselidiki reputasinya.

Kunci mengurangi endapan piutang:
1. Kenali konsumen dengan seksama.
2. Jatuh tempo piutang harus lebih cepat daripada jatuh tempo ke suplier.
3. Lamanya endapan stock dan piutang harus lebih pendek daripada jatuh tempo ke suplier.
4. Buat batas maksimum piutang dan berapa banyak faktur yang belum dibayar.
5. Sesering mungkin melakukan penagihan bila sudah jatuh tempo.
6. Perlu cross check antara konsumen dengan salesman dan kasir kita.

4. Ketika uang sudah diterima apakah sudah selesai?
Penerimaan uang fisik butuh dihitung. Dibawa oleh salesman dan kasir. Disimpan di brangkas. Belum lagi diselewengkan. Perlu kontrol terhadap salesman dan kasir. Butuh energi besar untuk menjaga dan mengelola fisik uang yang diterima.

Bagaimana mengontrol uang yang diterima?
1. Harus tahu berapa faktur yang dibawa oleh salesman. Intinya harus tahu berapa uang yang seharusnya diterima dari salesman atau collector.
2. Bila memiliki toko, berapa uang yang harus diterima dari toko?
3. Segera mungkin uang disetorkan ke bank.

Pengelolaan dan penjagaan uang fisik membuat uang menjadi tak berguna karena belum siap untuk dibelanjakan. Jadi uang di toko atau di kantor, sama juga uang mati yang tak berguna.

Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Baksolahar

Materi ini disampaikan pada calon peserta Workshop AMRI Pekanbaru

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment