Social Links
AMRI | ritel, ito
ritel, ito
ritel, ito
18109
post-template-default,single,single-post,postid-18109,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

Mengapa bisa Over Stock ?

oleh : Imam Hanafi*

Mindset yang ada di otak pedagang eceran adalah beli dengan harga murah, agar bisa menjual dengan margin yang besar. Betul ? He he…. Tenang saja, ini tidak salah. Hal ini wajar dan masuk akal. Keuntungan memang didapat dari besarnya margin saat beli dengan saat jual. Aneh juga kalau margin terlalu tipis apalagi tak ada margin tetap nekad beli untuk dijual kembali.

Hal penting setelah menemukan produk yang murah (entah di grosir atau suplier) adalah apakah produk tersebut akan laku dijual? Jika laku dijual, seberapa cepat daya lakunya? Bagi yang pernah menjual produk tersebut akan tahu apakah sebuah produk termasuk tipe cepat laku atau lambat lakunya.

Pemahaman produk yang cepat atau lambat lakunya ini adalah pengetahuan dasar bagi seorang peritel. Produk yang cepat lakunya (fast moving) ‘haram’ jika sampai gak ada stok, maka ketersediaan yang cukup mutlak menjadi perhatian. Sedangkan produk yang lambat lakunya (slow moving) ‘haram’ kelebihan stoknya. Untuk memastikan seberapa banyak persediaan barang fast moving dan slow moving alat ukurnya adalah ITO (inventory turn over). Sudah paham apa ITO kan ? Yup, benar!. ITO adalah perputaran barang/inventory (persediaan). Ada produk yang lakunya cepat, ada produk yang lakunya lambat. Salah mengenali dan menghitung perputaran persediaan ini akibatnya bisa fatal. Jangan semua produk dianggap sama, dan diberlakukan sama. Bedakan berdasarkan perputarannya.

Toko kelontong tetangga saya mengalaminya juga. Banyak sekali produk kadaluarsanya. Konsumen yang peka dengan tanggal expired ini milih beli di toko lainnya, meski lebih jauh lokasinya. Sering dijumpai bukan hanya kadaluarsa saja, namun kemasan sudah penyok dan warna pada kusam. Ini menandakan produk lama, dan belinyapun sudah lama. Inilah overstock. Kelebihan persediaan terhadap barang yang dijual. Sepanjang yang saya dengar, toko kelontong dan tradisional lainnya sudah biasa mengalami hal ini.

Pertanyaan pentingnya, mengapa bisa Overstock?
Ada beberapa kemungkinan :
Pertama, tergiur harga murah dari suplier. Kadang ada promo yang ditawarkan : untuk pembelian lebih banyak dapat potongan harga yang lumayan besar. Bagi yang tak kuat memegang prinsip ITO bisa tergelincir memborong barang yang ditawarkan, meskipun barang tersebut kategori slow moving.
Kedua, lokasi beli yang jauh. Hal ini juga menjadi pertimbangan buat sebagian toko. Ongkos ‘kulakan’ yang besar dan waktu yang lama untuk ‘kulakan’ menjadi pertimbangan untuk beli dalam jumlah besar. Makin pesatnya bisnis online menjadikan permasalahan jarak ini layak ditemukan jalan keluarnya.
Ketiga, Salah perhitungan terhadap mana barang yang fast moving dan slow moving. Mengapa bisa salah perhitungan? Bagi toko tradisional, yang mana ITO belum menjadi perhatian sangat mungkin hal ini terjadi. Untuk mengenali barang fast moving dan slow moving berdasar feeling atau perkiraan belaka. Bukan berdasarkan data konkret penjualan sebelumnya.
Keempat, dan Faktor lainnya diluar ketiga hal tersebut, misalnya Pergeseran minat pelanggan terhadap produk tertentu (musiman), atau karena ada barang substitusinya (pengganti).

Apapun penyebab timbulnya Overstock, patut menjadi perhatian buat pelaku ritel untuk menjaga jangan sampai ada Overstock, disamping mengganggu cashflow (hutang dagang macet, misalnya), juga menjadi tak leluasa menambah variasi stock (ruang toko kepakai barang overstock, dan uang cash gak ada karena masih berupa stock yang over, padahal ini penting untuk kenaikan omset).

Jadi, jangan lelah untuk terus belajar….
Memang, butuh keberanian untuk memulai bisnis
Namun, butuh ilmu untuk mengembangkannya

Sekian dari saya, semoga bermanfaat. Salam 5 jari AMRI

* Mentor AMRI, tinggal di Sidoarjo

Tags:
,
Suhu Wan MH
95ropi@gmail.com
No Comments

Post A Comment