Social Links
AMRI | MENEJEMEN TOKO, PERLUKAH ???
18099
post-template-default,single,single-post,postid-18099,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENEJEMEN TOKO, PERLUKAH ???

Oleh : Evi Juni Yanti *)Seorang teman pernah mengeluh. Bisnisnya sedang dirundung masalah. Dia punya toko, sudah cukup lama berdiri. Sejak dari tahun 2010 Saat ini kondisinya sedang kurang bagus. Penjualan mulai sepi.

Sepinya penjualan karena barang barang fast moving minus, banyak konsumen yang mencari barang yang di inginkan, tapi tak tersedia. Barang yang di butuhkan pelanggan sering habis, bahkan kosong. Keadaan ini menyebabkan terganggunya cash flow harian, pemasukan sedikit, mau belanjapun uang tidak ada..

Akibat cash flow terganggu dan tak lancar, toko kesulitan membayar hutang dagang. Banyak sekali tagihan dari suplier yang tak bisa dibayar. Apalagi stok yang tersedia tinggal barang slow moving. Tentu makin sulit diharapkan.

Sering terjadi, sales datang menagih untuk barang konsinyasi. Karyawan toko tersebut tak ada pilihan lain, langsung bayar tagihan. Tanpa melihat uang cash yang ada untuk kepentingan apa. Untuk belanja barang fast movingpun sudah tidak ada dana. Karyawan memang diberi kuasa penuh oleh pemiliknya untuk mengelola toko tersebut. Bahkan pemiliknya sendiri tak ikut terlibat sama sekali.
“Ini memang salah sejak awalnya, semua urusan diserahkan ke karyawan, saya sebagai pemiliknya tidak turun langsung membangun sistemnya” begitu teman saya menyadari kesalahannya. Dan salahnya lagi, karyawan tidak dibekali cara mengelola toko dengan benar.

Cerita teman saya ini menyadarkan saya, teringat akan pelajaran dasar dari suhu Wan MH “jika toko tidak disiapkan sistemnya, maka pemiliknyalah yang akan menjadi sistemnya”, begitu beliau pernah mengungkapkan. Nah, yang lebih fatal, toko teman saya ini sistemnya bukan pemiliknya sendiri, bahkan diserahkan sepenuhnya ke orang lain, karyawannya sendiri. Pemilik bahkan sudah tak bisa lagi mengontrol tokonya, semuanya sudah diluar kendalinya.

Bagaimana dengan stok slow moving yang sebagian masih menjadi hutang dagang? Karena tak ada pilihan lain, setiap datang sales atau suplier yang menagih pasti langsung diminta untuk mengambil saja barangnya. ” Sudah Pak, tarik saja barang bapak, toko ini mau saya tutup saja!”, begitu sikap teman saya setiap menghadapi penagih datang. “itung itung mengurangi beban hutang”, katanya lagi menambahkan.

Itu sekelumit cerita dari teman, tentang usaha toko yang sejak awal pengelolaannya diserahkan ke orang lain, sepenuhnya. Pemiliknya sendiri bahkan tak terlibat dalam pengelolaannya.

Bersambung….

*Mentor AMRI, Owner Vimart, tinggal di Medan

Baca ratusan tulisan khusus tentang ilmu-ilmu Ritel lainnya di:
www.ritelnews.com
telegram.me/ritelnews
telegram.me/amrimall

#AMRI
#EviJuniYanti
#RitelNews

Tags:
,
Suhu Wan MH
95ropi@gmail.com
No Comments

Post A Comment