Social Links
AMRI | MENCIPTAKAN TITIK BALIK
18830
post-template-default,single,single-post,postid-18830,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENCIPTAKAN TITIK BALIK

Oleh: Tim Redaksi AMRI

Kapan saat menciptakan titik balik? Suhu Wan dalam diskusi dengan para mentor menjelaskan, “Titik balik mental, dari down ke move on, tidak selalu berhubungan langsung dengan kondisi keuangan. Bisa terjadi disaat minus, di saat nol atau bahkan di saat keuangan surplus sekalipun.”

Bang Adib, Mentor AMRI pakar di retail marketing, juga setuju dengan Suhu Wan bahwa titik balik tidak harus menunggu ke titik nol atau minus.

Dia menjelaskan pengalamannya, “Dalam kondisi karir puncak saya juga pernah mengalami titik balik padahal keuangam tidak minus (titik nol) alias surplus.”

Jadi titik balik tidak harus menunggu bisnis berdarah-darah atau diambang kematian, lalu move on. Titik balik yang resikonya paling kecil adalah saat bisnis sedang tumbuh, lalu menciptakan titik balik baru atau arus baru dari bisnis kita.

Hanya saja penciptaan titik balik butuh energi yang besar. Suhu Wan menjelaskan banyak kasus remeh tetapi sudah membuat orang terpukul.

Suhu Wan menjelaskan, “Saya mengalami titik balik mental di saat minus, banyak juga orang surplus, misalkan bisnis baru turun sedikit saja sudah down.”

Mengapa kebanyakan pebisnis sulit menciptakan titik balik? Bang Adib, menjelaskan, “Yang penting mental jangan blocking. Seperti dalam 7 habit tentang 2 C, character dulu baru competency, penciptaan mental dulu baru penciptaan fisik kemudian.”

Kekuatan mental pebisnislah yang menciptakan titik balik dalam setiap keadaan. Seperti yang dikatakan Suhu Wan, “Kaya mental maka kaya fisik akan mengikuti.
Sukses mental maka sukses fisik akan mengikuti. Ada yg kaya fisik namun karena miskin mental akhirinya miskin fisik mengikuti, seperti banyak penerima warisan yang awalnya kaya namun karena mental miskin akhirnya menjadi miskin.”

Mengingat kekuatan mental kadang naik dan turun maka menurut bang Adib butuh sebuah lingkungan pergaulan yang menciptakan karakter tangguh, mentalnya tidak rapuh, antusias, penuh semangat, hidup tanpa mental block.

Salam 5 Jari

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment