13 Jul MATA TAK PERNAH BOHONG
Oleh: Adjib Mada Winata *)
Baru-baru ini di sebuah group ritel yang saya ikuti dibahas tentang bagaimana cara merekrut karyawan dengan benar. Diskusi yang dinamis terjadi di antara anggota. Berbagai metodologi perekrutan dikemukakan dari berbagai sudut pandang keilmuan dan sudut pandang pengalaman. Dari berbagai pendapat yang muncul, mengerucut pada kesimpulan keinginan mendapatkan karyawan yang jujur.
Karyawan Yang Jujur Pentingkah?
Dalam suatu acara bedah buku berjudul “Good to Great” karangan Jim Collins yang dilaksanakan secara online di telegram AMRI NASIONAL dengan pembicara tunggal yaitu Suhu Wan (Ketua Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia atau disingkat AMRI) diketahui bahwa untuk menjadi perusahaan yang dahsyat dan bisa bertahan di atas seratus tahun, diperlukan orang tepat (yaitu calon karyawan yang tepat) untuk dimasukkan ke dalam bus (perusahaan) tersebut. Siapa dulu baru apa, orang tepat lebih dahulu baru yang lainnya.
Kejujuran seorang karyawan di berbagai perusahaan kelas dunia menjadi syarat mutlak. Jadi bisa dikatakan bahwa salah satu syarat karyawan tepat yang masuk ke suatu perusahaan adalah karyawan yang jujur.
Akting Calon Karyawan
Pengalaman ratusan kali penulis melakukan interview pada calon karyawan, diperoleh fakta bahwa banyak calon karyawan melakukan “akting” demi lolos diterima sebagai karyawan. Dari akting calon karyawan cewek berpakaian seksi sampai akting calon karyawan bergaya memelas supaya diterima menjadi karyawan.
Calon karyawan yang sudah berkeluargapun banyak yang berusaha menutupi statusnya. Adalagi yang bersikap (penulis anggap) tidak profesional dengan meminta tolong papah, pakdhe, budhe ataupun keluarga lainnya untuk melobi agar bisa diterima sebagai karyawan.
Pengalaman penulis meloloskan calon karyawan (terutama untuk seleksi calon pramuniaga atau penjaga toko) karena iba, sehingga patokan-patokan syarat kelulusan yang saya buat, “terpaksa” saya langgar sendiri, banyak yang berakhir pahit. Dan kepahitan itu kebanyakan berupa ketidakjujuran pramuniaga.
Dikarenakan banyak “ketipu” dalam rekrutmen calon karyawan disebabkan oleh akting, membuat penulis sering bertanya dan cari referensi untuk mendapatkan teknik sederhana yang manjur untuk menyeleksi dan mendapatkan karyawan tepat, terutama saat interview.
Mata Yang Selalu Jujur
Mata adalah anugerah Tuhan Maha Kuasa yang tidak bisa di duplikasi fungsinya oleh teknologi sampai saat ini. Begitupun Tuhan juga memberi tugas pada mata untuk senantiasa “berkata jujur”. Apa tugas mata yang dimaksud?
Suatu saat, ketika penulis mengikuti Workshop tentang NLP (Neuro Linguistic Programming) barulah tersadar bahwa mata tak pernah bohong. Salah satu materi workshop menceritakan bahwa setiap pertanyaan yang ditujukan pada kita, mata akan merespon dengan otomatis dengan cara bergerak ke arah kanan ataupun ke arah kiri atas informasi yang kita dengar.
Inilah teknik sederhana saat kita melakukan interview, yaitu dengan melihat arah gerak mata calon karyawan ketika kita ajukan pertanyaan. Lebih jelasnya seperti berikut:
Jika arah mata calon karyawan melihat ke arah kiri dia artinya memori visual sedang di akses dengan kata lain calon karyawan berusaha mengingat sesuatu dan kemungkinan yang dikatakan adalah benar. Sebaliknya, jika arah mata calon karyawan melihat ke arah kanan dia artinya sedang mencari alasan-alasan atau ide-ide untuk menutupi yang sebenarnya dan kemungkinan yang dikatakan adalah bohong. Sederhana bukan?
Selain bisa digunakan dalam seleksi karyawan, teknik melihat gerakan mata ke kanan atau ke kiri ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi dini pasangan anda sedang “di dalam jalur” atau sedang “main-main di luar jalur” hehe… Selamat mencoba dan utamakan husnudzon pada pasangan.
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Sekjen Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia (AMRI) dan praktisi ritel.
No Comments