21 Okt Mal Kelas Bawah Sulit Berinovasi
JAKARTA, Ritelnews.com – Dalam merespons perubahan perilaku konsumen, mal kelas menengah ke bawah kesulitan. Ada beberapa hambatan yang dihadapi mal kelas menengah ke bawah sehingga sulit beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Satu di antaranya adalah keterbatasan tempat.
Seperti diketahui di era digital saat ini, pasar ritel offline mengalami penurunan. Penyebabnya adalah menjamurnya bisnis online. Kehadiran bisnis online ini merubah perilaku konsumen. Konsumen kini membeli barang cukup lewat e-commerce.
Dampaknya tentu pada angka penjualan di ritel modern yang mengalami penurunan. Konsumen yang datang ke pusat perbelanjaan kini bukan untuk berbelanja. Mereka berkunjung ke pusat perbelanjaan hanya sekadar untuk nonkrong sambil makan dan minum.
Perubahan perilaku konsumen ini sulit direspons cepat pusat perbelanjaan skala menengah ke bawah. Penyebabnya, menurut Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, karena tempat yang tidak memadai. Ini, kata Ferry, membuat mal menengah ke bawah susah berinovasi. Ditambah, lanjut dia, mal menengah ke bawah juga memiliki keterbatasan modal.
Ini berbeda dengan mal kelas menengah ke atas. Ferry mengatakan, mal menengah ke atas sangat cepat merespons perubahan perilaku konsumen. Menyadari kurangnya minat berbelanja pengunjung, membuat mal-mal besar merubah strateginya.
Menurut Ferry, mal besar mulai menata ulang konsep tempatnya. Ada juga mal yang sudah merubah komposisi penyewa dimana lebih mengutamakan gerai makanan dan minuman dibanding gerai fashion. “Mal kelas menengah ke atas cepat beradaptasi terhadap perkembangan dan dinamika pasar,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (16/10/2019).
Cepatnya respons mal menengah atas terhadap dinamika pasar membuat tingkat keterisiannya masih tinggi. Penyewa bahkan sampai antre. Tercatat okupansi mal menengah atas di atas 90 persen. Sementara mal menengah bawah masih sangat rendah.
Penulis: Reza Gautama
Sumber: Bisnis.com
No Comments