Social Links
AMRI | Langkah Yang Harus Dilakukan Peritel Saat Kondisi Bisnis Ritel Tengah Lesu
19810
post-template-default,single,single-post,postid-19810,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

Langkah Yang Harus Dilakukan Peritel Saat Kondisi Bisnis Ritel Tengah Lesu

RITELNEWS.com – Dewasa ini belanja daring atau belanja melalui media online memang sudah banyak pilihan bagi masyarakat. Meski begitu, belanja dengan cara konvensional yakni dengan betemunya pembeli dan penjual masih belum bisa terpisahkan di kehidupan sehari-sehari.

Dengan ini, pebisnis dunia ritel modern diharapkan tidak mempunyai kekhawatiran berlebih meski ditahun ini bisnis ritel modern tengah lesu gairahnya.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto membenarkan, bisnis ritel tanah air memang bisa dibilang belum kembali bergairah, akan tetapi kondisi ini diharapkan bisa memacu para pebisnis ritel bisa lebih melakukan inovasi.

“Pusat perbelanjaan perlu mengatur kembali komposisi tenant serta mengganti dengan tenant yang baru, sehingga dapat lebih menarik banyak orang,” kata Ferry seperti yang dilansir dari laman bisnis.com, Selasa, (23/7/2019)

Tak hanya itu, lanjut Ferry, para pebisnis ritel yang kinerjanya rendah dapat berdampak langsung pada keseluruhan kinerja pusat perbelanjaan.

Karena menurutnya, saat ini masyarakat lebih suka berbelanja secara efektif dan sederhana. Misalnya, dengan berbelanja di toko terdekat, supermarket. “atau melalui belanja online untuk kebutuhan sehari-hari.” Tuturnya.

Ferry juga menjelaskan, saat ini masih banyak mal-mal yang menyediakan kebutuhan hidup bagi masyarakat dinilainya masih bisa survive untuk waktu yang lama.

Kemudian berdasarkan data yang dihimpun Colliers, permintaan pasokan bisnis retail masih prospektif dengan adanya sektor fesyen dan food and beverage yang akan terus mendukung industri retail.

Seperti diketahui, pada kuartal kedua 2019, jumlah permintaan ruang ritel menurun menjadi 70.442 meter persegi. Namun secara tahunan permintaan ruang retail mengalami kenaikan sebanyak 58.528 meter persegi. Di sisi lain, proyeksi rata rata tahunan akan meningkat sebanyak 78.029 meter persegi hingga 2023.

“Kami memproyeksikan adanya penambahan pasokan sekitar 1,1 juta meter persegi untuk retail di Jakarta dan greater area dari 2019 hingga 2023,” sambung Ferry

Selanjutnya, kata dia, pada kuartal kedua 2019, pasokan retail masih stagnan atau belum memiliki penambahan pasokan.

Secara tahunan, penambahan pasokan diperkirakan mencapai 250.000 meter persegi. Adapun, proyeksi rata rata tahunan 5 tahun mendatang, pasokan retail akan mengalami peningkatan sebanyak 223.304 meter persegi.

“Dark sisi penyewaan bahwa retail akan memiliki banyak supply yang tersedia. Namun proyeksi permintaan yang sedikit akan sulit mengangkat sewa secara keseluruhan untuk mencatat pertumbuhan yang tinggi” katanya.

Ferry memproyeksikan nantinya akan ada penyerapan dengan kemungkinan banyaknya pasokan yang masuk, dan tingkat serapan yang masih rendah, kemungkin tingkat kekosongan akan naik, meskipun sedikit.

Penulis : Rizki Aulia Rachman
Editor : Tim Mentor Nasional AMRI

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment