19 Feb KURANG MODAL LAGI DAN LAGI
Oleh: Adib Munajib *)
Ketika saya googling dan diskusi, banyak sekali keluhan dari para pelaku usaha level UKM yang mengatakan usahanya kurang berkembang karena alasan kurang modal.
Demikian juga terhadap usaha rintisan yang saya jalani, kenapa dulu ketika menjadi karyawan bisa ekspansi buka toko ritel dalam jumlah banyak? Namun ketika mengelola usaha sendiri belum bisa banyak ekspansi? Karena modal perusahaan lumayan besar terutama setelah mendapatkan kucuran hutang dari beberapa bank ternama.
Dari sisi pola pikir sebagai karyawan tidaklah terlalu rumit, karena sudah ada jobdes masing-masing per divisi dan per departemen, sehingga bagian operasional tinggal fokus mengelola operasional dan ekspansi buka toko sebanyak-banyaknya selama lokasinya strategis dan menguntungkan, di sisi lain bagian keuanganlah yang memikirkan dan mencari sumber modal usahanya.
Namun dari sisi pola pikir pelaku usaha level UKM sangat beragam, ada berbagai jenis dan sumber modal yang bisa dikelola, sebab hampir sebagian besar pelaku usaha level UKM mengartikan modal hanya sebatas uang terutama hutang dari bank.
Ada pencerahan yang saya dapatkan ketika ikut seminar Om Bob Sadino, beliau mengartikan modal menjadi 2, yaitu:
1. Modal yang tidak dapat diraba (intangible), seperti; ide-ide, keyakinan, visualisasi, waktu, doa, pengetahuan, nama baik, mental pantang menyerah, semangat, antusias, optimis, disiplin, sabar, ulet, tekun, jujur, dll.
2. Modal yang nyata (Tangible), seperti; uang, pertemanan, bangunan, tanah, peralatan, barang dagangan, kendaraan, perizinan, dll.
Dalam bahasa fisika tentang energi, intangible bisa disebut sebagai quantum yaitu sebagai hal yang tidak nampak dan tangible bisa disebut sebagai newton yaitu sebagai hal yang nampak.
Jadi dalam pengertian modal, para pelaku usaha level UKM lebih fokus hanya pada pengertian modal sebagai uang saja terutama hutang, maka banyak pelaku usaha level UKM yang melupakan bentuk-bentuk modal lainnya yang potensial.
Namun dalam kesempatan ini saya juga menyampaikan beberapa sumber permodalan yang berbentuk uang (tangible), yaitu:
1. Modal sendiri.
2. Modal pinjaman dari bank/BPR (konvensional atau syariah), seperti; kartu kredit, KTA, KUR dan jenis kredit lainnya (sebaiknya hutang yang produktif jangan yang konsumtif dan minimal mengukur hutangnya dengan indikator DER dan DAR).
3. Modal pinjaman non bank, seperti;
a. Pinjaman dari IMF (istri/suami, mertua/orang tua dan family lainnya).
b. Hutang dari teman yang baik hati.
c. Hutang dagang dari supplier atau memperpanjang TOP (term of payment).
d. Hutang dari koperasi simpan pinjam.
e. Dan hutang dari lembaga non bank lainnya.
4. Bentuk modal lainnya, seperti;
a. Dana investor dan joint venture.
b. Kemitraan.
c. Go public di pasar modal bagi yang sudah mampu.
d. Dll.
Dari uraian diatas baik modal yang tidak nampak (intangible) maupun modal yang nampak (tangible) harus dimaksimalkan dan dioptimalkan dalam pengelolaanya. Masing-masing pelaku usaha mempunyai pilihan dan prioritas dalam pengelolaan modal yang intangible maupun yang tangible, ada pelaku usaha yang memilih hanya menggunakan modal sendiri dan hutang dagang dari supplier, ada yang memilih hutang dari bank, dsb.
Sekalipun punya modal nampak (tangible) yang banyak bisa habis semuanya, jika tidak memiliki modal yang tidak nampak (intangible). Jadi sebaiknya baik modal intangible maupun tangible yang kita miliki harus dikelola dengan baik dan harus selalu diupgrade.
Tetap semangat upgrade ilmu di AMRI.
Salam lima Jari
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode
No Comments