02 Mei KENAPA SAYA SETIA DENGAN BISNIS RITEL?
Saat duduk di bangku SMK, karena kondisi ekonomi keluarga yang berat sudah (Ayah pensiun dan Ibu berjualan sayur) saya putus sekolah selama 2 tahun. Selama putus sekolah inilah saya berjualan macam-macam, mulai dari warung rokok dan minuman di terminal Bus, buah-buahan, berjualan sembako dari kampung ke kampung (mengikuti hari pasar), berjualan daging sapi di pasar, sampai akhirnya jualan rokok di depan bioskop misbar (gerimis bubar:grinning:). Kemudian saya melanjutkan masuk SMK lagi dan akhirnya terus kuliah di Unri Pekanbaru di jurusan Akuntasi.
Saat mulai kuliah inilah saya berhenti di ritel dan fokus ke akuntansi, tetap mencari uang sendiri untuk biaya kuliah, namun bekerja di sekitar “bidang akuntansi”:grinning:. Saya mulai belajar Akuntasi saat saya masuk SMK (dulu SMEA) jurusan Akuntasi. Saya masuk SMK dengan alasan yang sederhana yakni di SMK tidak ada pelajaran IPA (saya sulit menguasai fisika dan kimia) termasuk saya lemah di matematika :grinning:, ternyata belajar akuntansi itu jauh lebih gampang dari matematika dan IPA. Saat kuliah di Akuntasi lah saya mengajar di lembaga kursus akuntansi dan bekerja di bidang Akuntansi. Tahun 1995 saya lulus kuliah bekerja di perusahaan kayu di Pekanbaru, tahun 1996 hijrah ke Jakarta dan bekerja di perubahan swasta di Cikarang, Bekasi sampai tahun 2002. Praktis selama 20 tahun (1986-2002) saya bergelut di bidang Akuntasi dan keuangan (termasuk pajak) mulai masuk SMK, kuliah, mengajar, akuntan internal, auditor, akuntan eksternal bahkan konsultan saya lakoni.
Tahun 1996 saya merantau ke Jakarta dan tinggal serta bergaul dengan keluarga isteri yang hampir semuanya pedagang, membuat saya “dejavu” dengan dunia ritel saya yang dulu. Segera jiwa saya bergelora dan bergejolak untuk kembali ke “dunia ritel” dunia yang saya cintai:grinning:. Namun satu kendala besar saya menghadang, yakni “ilmiah Akuntasi” yang telah saya kuasai dengan karatan, logika dan kelayakan bisnis menjadikan dasar pertimbangan dalam setiap mengambil keputusan membuat saya tidak berhasil come back ke dunia ritel, selalu menganalisa rencana, dan mengatakan “tidak layak” setiap saya mau “action” terjun ke ritel lagi. Saya butuh 4 tahun untuk mengalahkan “logika akuntansi saya” setelah akhirnya tahun 2000 berhasil membuka kios ukuran 3×6 meter yang menjual atk dan menyediakan layanan fotocopy.
Awal memulai ritel ini saya sempat “tidak menggunakan ilmu Akuntasi” karena selama 4 tahun menjadi kendala saya “action” tetapi kemudian saya terbentur untuk berkembang, terbentur untuk membuka cabang (kendala sistem), akhirnya “ilmu Akuntasi dan sistem” adalah sangat bermanfaat dalam mengembangkan ritel. Dengan Ilmu gabungan inilah saya terus menjalankan bisnis ritel saya walaupun sempat bangkrut juga selama 2 tahun (2005-2006).
Jika saya ingat-ingat lagi hampir rasanya tidak ada 1 produk ritel pun yang belum pernah saya jual:grinning: rokok, makan ringan, sembako, pakaian, sepatu dan sandal, buah-buahan, daging sapi, atk, mainan, per pengalaman bayi, asessoris motor, HP dan pulsa, kosmetik, elektronik, jam, pecah belah, dll. Jenis dan skala ukuran ritel saya juga sangat bervariasi, mulai dari kotak rokok, gerobak, kios, Warung, toko, minimarket (sampai ukuran 300 meter2), hanya mall yang saya belum pernah punya (tetapi buka toko di mall pernah di 5 mall).
Menurut saya dunia ritel itu sangat menarik, karena jika kita yang lain kita harus bekerja dulu baru dapat uang, jika ritel kita hanya “membeli” barang kemudian diletakkan ditoko dan ada yang membeli kita dapat “untung”. Bahkan jika barang yang dibeli sudah tepat, toko kita sudah berjalan maka “omset” akan setinggi “semampu dan sekuat” kita belanja. Saya ingat dulu saat masih belanja dari grosir, kenapa setiap saat mau belanja (saya berangkat setelah sholat subuh naik jadwal kereta yang pertama), jika setelah selesai belanja Rp 1 juta, saya merasa sudah langsung dapat uang Rp 300 ribu (keuntungan jika terjual), jika saya mampu belanja Rp 10 juta, berarti saya merasa langsung dapat uang saat itu juga Rp 3 juta :grinning:.
Selain itu pertumbuhan bisnis ritel menurut saya “tidak ada batasan”, bisnis yang lain selalu ada batasan tertentu, atau pertumbuhan yang mentok. BATASAN PERTUMBUHAN BISNIS RITEL HANYA LANGIT. Semoga kita semua bersemangat dan siap berjuang di bisnis ritel.
Selamat pagi para pejuang ritel AMRI
Wan MH
AM
Posted at 09:46h, 21 Julisepakaat.. pertumbuhan bisnis ritel tidak ada batasannya…. bisnis ritel selalu hadir dari jaman ke jaman dan terus berkembang menyesuaikan jamannya.. bisnis ritel tidak ada matinya…
YS
Posted at 16:07h, 21 JuliUntuk berhasil dan sukses dalam bisnis ritel memang harus menguasai ilmu tentang bisnis ritel… AMRI merupakan tempat yang cocok untuk belajar bisnis ritel….
A Mada
Posted at 18:16h, 21 Julibisnis ritel adalah bisnis yg sudah amat tua dan selalu menarik untuk diperhatikan karena bersinggungan dengan masyarakat secara langsung.. bisnis ini sangat dinamis baik dalam perjalanan waktunya maupun dinamis menyesuaikan dalam mencukupi kebutuhan masyarakat yang makin beragam.. Ingat Bisnis Ritel Ingat AMRI.. !!
Hanik anisah
Posted at 14:24h, 04 JuliMau belajar tp jauh .. apa bisa belajar secara online..
DPP AMRI
Posted at 03:19h, 05 Julisangat bisa, AMRI memfasilitasi anggotanya untuk belajar baik melalui media online maupun offline. silahkan segera registrasi member melalui web ini untuk dapat bergabung dalam grup online. bila menemui kesulitan dapat menghubungi admin melalui email dppamri@gmail.com
terimakasih,
Admin RitelNews