Social Links
AMRI | KAYA ASET TAPI MISKIN (UANG)
17656
post-template-default,single,single-post,postid-17656,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

KAYA ASET TAPI MISKIN (UANG)

Beberapa waktu yang lalu Nada anak sulung saya berkomentar saat saya membeli sebidang tanah seharga Rp 2,4 milyar secara tunai (cash), “Jika Nada menabung dari gaji saat ini Rp 1 juta sebulan maka baru 2.400 bulan (200 tahun)? baru Nada bisa membeli tanah ini secara cash. Atau jika semua gaji Nada saat ini ditabung (dia baru 2 bulan bekerja di akuntan publik big four dengan gaji Rp 5 juta per bulan) maka baru 480 bulan terkumpul (40 tahun)?“.

Tentu saja sebagai karyawan gajinya akan bisa naik, apalagi jika karir misalkan bagus, namun kebutuhan juga otomatis akan ikut naik. Pertanyaanya bisakah terjadi seorang karyawan membeli aset dengan nilai milyaran rupiah secara tunai? Bisa saja andaikata selama bekerja jabatan nya naik (gaji juga otomatis naik) dengan jabatan paling tidak manejer ke atas tetapi tetap membutuhkan waktu yang panjang untuk menyimpan uangnya. Andaikata jabatannya hanya staff sampai pensiun kayaknya akan sulit bisa membeli aset tersebut.

Pendapatan yang kita peroleh dari “Penghasilan aktif” atau sebagai karyawan akan sulit membuat orang menjadi kaya, karena pada umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, termasuk jika kita punya bisnis (misalnya toko) yang setiap saat harus kita tungguin. Hanya “Penghasilan Pasif” yang akan membuat orang menjadi kaya, yakni penghasilan yang akan mengalir tanpa dia harus aktif bekerja, dan pada umunya penghasilan pasif ini adalah binsis (ritel, properti, jasa dll).

Jadi boleh saja kita sekarang hanya baru memiliki penghasilan aktif (baik sebagai karyawan ataupun bisnis kecil yang masih harus dijalankan sendiri), mulailah “menanam dan memlihara pohon” atau membangun “penghasilan pasif” dari bisnis, bangun sumber cash flownya (pohong duit). Setelah pohon duitnya menghasilkan dengan kontiniu dan terus bertambah barulah kita membeli aset (harta) yang membackup bisnis kita, seperti toko selama ini masih sewa kita beli dll. Pastikan Aset yang kita beli ini nilainya terus bertumbuh bahkan membuat penghasilan pasif kita semakin bertambah. Barulah kita bisa bertumbuh dan menjadi kaya.

Kesalahan yang banyak terjadi adalah orang terlalu terburu-buru membeli Aset (properti) tanpa membangun bisnis (penghasilan pasif) yang kokoh dan menghasilkan arus uang tunai yang baik terlebih dahulu, sehingga banyak orang yang KAYA ASET TAPI MISKIN UANG. Akibatnya terjadilah kesulitan keuangan, bisnis menurun dan akhirnya berakibat pada kegagalan bisnis dan aset tadi terjual. Seorang teman saya yang sudah punya 2 minimarket berjalan, terburu-buru membeli 2 ruko lain dengan hutang Bank dan akhirnya cash flow minimarket tersedot ke cicilan bank setiap bulan dan bangkrut serta ruko juga terjual. Padahal sebelum punya ruko keuntungan dari 2 minmarket cukup lumayan dan lebih dari menutupi kebutuhan sehari-hari, harusnya ini yang diperkuat dahulu, tambah stok barang, buka cabang (walaupun sewa dulu) nah…jika dana terkumpul baru membeli ruko. Sampai membuka 10 toko lebih saya belum punya 1 pun ruko milik sendiri, seluruhnya masih saya sewa untuk memperkuat arus cash flow terlebih dahulu. Saat ini setengah ruko sudah milik saya sendiri.

Yang lebih keliru lagi disaat baru punya “penghasilan aktif” sebagai karyawan sudah membeli aset (terutama rumah) yang dicicil selama 20 tahun?. Akibatnya dia tidak punya kesempatan membuat bisnis (penghasilan pasif yang bisa membuat kaya) karena setiap bulan uangnya habis ke rumah tersebut. Apalagi rumah itu terus saja meminta “uang tambahan” yakni harus direnovasi, diisi perabot, perawatan dll, sehingga penghasilan aktifnya habis tidak bersisa, bahkan hanya bertahan sampai tanggal 15?. Setelah itu ditambah lagi beli motor atau mobil dengan cicilan lagi…lengkaplah sudah punya aset rumah dan kenderaan tetapi seumur hidup miskin uang. Saya membeli rumah setelah saya memiliki beberpa toko milik sendiri terlebih dahulu, dan pernah bersama isteri menghitung bahwa kami Alhamdulillah sudah pernah mengotrak 10 rumah tempat tinggal sebelum akhirnya memiliki rumah sendiri?.

Selamat Sore, salam ? jari AMRI
Wan MH

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment