09 Feb JADI KAYA, RUBAH MINDSET
Oleh : Daliansyah *)
Setip tahun ajaran baru, sebagai guru wirausaha, saya sering melakukan pretest sederhana terhadap siswa saya di sekolah, (SMK negeri 2 Rantau Prapat).
Setiap pertemuan pertama, hanya ingin melihat sejauh mana minat atau cita-cita anak didik (siswa) tersebut, tentang pemahamannya tentang wirausaha.
Setelah memberi kuisioner dan menerima jawaban siswa, di dapatkan hasil rata-rata tiap kelas, dengan jumlah siswa rerata 35 siswa/kelas, 90% siswa menjawab di luar wirausaha. Seperti menjadi TNI, Polri, Dokter, Pengacara, Arsitek, sarjana Pertanian dll. Hanya 10% yang berwirausaha.
MasyaAllah, jika dianalisa, disimpulkan dan dikorelasikan dengan teori ” 4 kwadrant ” Robert T. Kiyosaki, maka siswa-siswa itu jika tidak dirubah mindset atau pola pikirnya, apalagi hanya mengandalkan ijazah semata, maka tidak akan mudah untuk menjadi kaya dan berhasil dalam kehidupannya .
Ini hanya prediksi dan bersandar teori dengan fakta-fakta yang sering terjadi. Bukan berarti mendahului Tuhan. Bisa dipastikan mereka akan menjadi karyawan, pegawai swasta atau PNS, atau jadi profesional seperti dokter, arsitek pengacara dll.
Mereka akan terbiasa dan nyaman dengan gaji yang di terima setiap bulannya. Mereka akan larut dan terlena dengan segala fasilitas yang ada, padahal semua itu hanya aset dan fasilitas perusahaan.
Alhamdulillah saya pun punya sedikit pengalaman saat kerja di sebuah perusahaan perkebunan, dari karyawan harian lepas masa krisis moneter yg cukup parah (1998), dengan titel sarjana dari keadaan dan kondisi yang sulit tersebut, perusahaan sibuk mengurangi karyawan dan PHK. Sementara itu saya sibuk mencari kerja, akhir terpaksa menerima kerja dengan gaji harian, masa itu di bayar Rp 5100 per hari.
Sebagai sarjana tentu secara pribadi saya pun membuat target, singkat cerita selama 7 tahun saya merintis karir, apa yang saya target berupa jabatan dan gaji yang diinginkan Alhamdulillah tercapai.
Ibarat pepatah Melayu lama semakin tinggi pohon semakin kencang angin. Maka mulai timbul friksi dan konflik, sesuatu yang ideal pun tidak bisa dipertahankan, yang pada akhirnya saya pun mulai merenung, dan mengambil sikap untuk resign ada semacam pemikiran di benak saya bahwa “perusahaan tidak akan pernah mau rugi”, maka siap-siap apapun bisa dikorbankan.
Simpanan yang saya kumpul dan gaji yang di tabung selama 7 tahun berkarir itu tidak terasa ludes, fasilitas yang menyenangkan yang ada selama itu hanya milik perusahaan. Hanya sedikit sempat saya modalkan untuk usaha.
Akhirnya saya mundur bekerja dari perusahaan di Tanah Rencong (Aceh) tepat sebulan sebelum tsunami (Oktober 2004) dan Desember 2004 itu terjadi tsunami meluluh lantakkan Aceh. Ini merupakan sekelumit pengalaman yang kaya hikmahnya.
2005 saya mulai usaha kecil-kecil sambil mengajar sebagai guru honor. Alhamdulillah saat ini 2018, sudah berjalan 13 tahun sebagai wirausaha, sudah ada dua pintu ruko sebagai tempat usaha dan tempat tinggal ada 2 toko kecil di pasar kota.
Kebebasan waktu, kebebasan finansial, kebebasan aktifitas dan kebebasan lainnya pasti tidak akan saya dapatkan kalo hanya sebagai karyawan. Menjadi karyawan pasti saya hanya akan mendapatkan kebalikannya. Yaitu, keterbatasan waktu, finansial, aktifitas dll.
Bersambung- Kamis depan
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Mentor AMRI
No Comments