18 Agu INSPIRASI PAGI: PENJUAL NASI BUNGKUS
Oleh: Imam Hanafi *)
Bismillah… Hari ini baru sempat ngobrol dengan beliau. sudah 5 bulan ini berlangganan. Tak setiap hari sich. Seminggu bisa 2-3 kali menikmati lezatnya nasi bungkusnya. Sarapan nasi bungkus yang murah meriah jadi pilihan, kesukaan baru menyambut mentari pagi, he he….
Tempat jualannya bukan depot, atau resto yang permanen. Hanya sebuah papan kayu yg kurang tepat juga kalau disebut meja. Tak sampai 1 x 1 meter ukurannya. Tak ada etalase kaca tempat lauk layaknya rumah makan, tak ada piring dan gelas. Maklum, jualannya memang nasi bungkus. Iya, nasi yang dibungkus kertas minyak warna coklat. Tahu kan?
Untuk menandai bahwa disitu ada yg dijual, dibentangkan spanduk kecil sekira 2 meter x 15 cm secara vertikal. Bagi pelanggan kayak saya, dari jauh sudah terlihat, sudah tahu nasinya masih ada atau sudah habis. Cirinya gampang, kalau spanduk masih tertempel di pohon yang besar itu, berarti nasi masih tersedia. Karna spanduk akan diambil lagi kalau nasi sudah ludes. Spanduk ini ternyata berguna sekali sebagai sign, penanda dari kejauhan sebelum motor memutuskan berhenti atau lewat. Spanduk yg mencolok karena warna dasarnya merah dengan tulisan warna kuning “nasi bungkus 4000”.
Buat yang jomblo luar kota (wkwkw..), nasi bungkus jadi solusi sarapan yang mudah. Praktis, murah juga. Daerah yang pesat industrinya selalu jadi daya tarik pendatang luar kota. Bagi yang tak membawa keluarga, memasak sendiri bukan pilihan yang disukai. Ada juga yang masak sendiri, ini biasanya tipe yang cukup rajin dan teratur hidupnya (wkwkw…). Mobilitas pekerja dalam jumlah banyak adalah peluang. Hal ini ditangkap juga oleh para penjual nasi bungkus. Sepanjang jalan, dipagi hari, bertebaran dimana mana.
Saya belum cek ke para penjual berapa omset tiap harinya. Sekedar sampling, hari ini sempat tanya ke penjual langganan, berapa omset hariannya. Beliau cerita, sehari bisa menjual 350 hingga 400 nasi bungkus. Hari hari yang ramai itu jika sedang tanggal muda (istilah ini menyesuaikan gajian karyawan perusahaan). Semakin tanggal menua, penjualan sedikit menurun. Iseng iseng saya hitung, jika terjual 400 nasi bungkus, dikali harga 4000, ketemu angka 1,6 juta. Perhari. Ya perhari, dari jual nasi bungkus harga 4000an.
Berapa profit bersihnya ? Asumsi kasar saja. Jika profit usaha kuliner ini kita anggap 25% saja, dana segar 400 ribu masuk kantong. Bersih. Itu sudah dikurangi modal dan biaya pegawai. Padahal usaha kuliner selama ini diketahui untungnya bisa kebih 50%. keren kan kalau tiap hari ada pemasukan bersih sekitar 800 ribuan masuk kantong.
Inilah usaha yang nampak sepele, remeh temeh, hanya nasi bungkus harga 4000an. Ternyata hasilnya nendang banget. Bisa Kalah tuh para pegawai level menengah yang berangkat pagi pulang sore atau malam. Ini baru dari jualan nasi bungkus. Penjual langganan saya itu juga menyediakan gorengan harga 500an. Pisang goreng, dadar jagung, ote ote, dan tempe goreng. Sari kedelai juga sedia. Sayang sekali gorengan dan sari kedelai selalu habis duluan, lebih cepat dari nasi bungkusnya yang juga laris manis.
Ini cerita tentang penjual nasi bungkus, banyak sekali, bahkan tak terbatas macamnya berbagai usaha mandiri. Unlimited. Sudah waktunya usaha mandiri jadi pilihan, apapun usahanya. Banyak yang berbondong bondong ingin menjadi pegawai. Tak sedikit juga para pegawai yang berbondong bondong merintis usaha mandiri. Bagaimana pendapat Anda?
Sidoarjo, 16/08/2017
Salam ? AMRI
*) Admin AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia) Wilayah 2 (Jatim Jateng DIY)
No Comments