Social Links
AMRI | ILMU PASTI BISNIS RITEL
19521
post-template-default,single,single-post,postid-19521,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

ILMU PASTI BISNIS RITEL

Oleh: Om Yani YESS (Mentor Nasional AMRI)
Di alam semesta raya hukum Allah bekerja. Namanya Sunatullah. Itulah yg membuat setiap benda dibumi jatuh pasti kebawah. Bumi tetap berputar pada porosnya. Planet beredar menurut orbitnya. Dan teratur. Sehingga bisa dihitung dan dirumuskan.

Bahkan sesuatu yang nampak tidak teratur pun ternyata teratur dalam ketidakteratutannya. Tugas manusia adalah memahaminya, mencermati, menganalisa dan merumuskan hukum hukumnya. Lalu memanfaatkannya.

Dalam ilmu fisika ketemulah ratusan ribu rumus dan hukum hukum seperti Archimedes, Newton dengan gravitasinya, Einstein dengan teori relativitasnya, Edison dengan lampu pijarnya dan lain-lain.

Saat itulah apa yang dulu dianggap mistis dan rahasia Allah, mulai terbuka dan dipahami manusia. Diaplikasikan. Dan jadilah kemajuan.

Jika Anda bisa membaca tulisan ini, itulah hasil dari kerja keras dan kerja cerdas manusia. Kerja keras dan cerdas mereka yg menjadikan saya bisa menulis di smartphone tanpa menggunakan kertas dan pena lagi.

Kerja keras dan cerdas manusia yang menyadari bahwa dirinya diciptakan-Nya dengan sempurna, yang sadar bahwa dirinya diciptakan special, yang yakin bahwa dirinya adalah produk yang dibuat khusus oleh penciptanya.

Dalam kesadaran itu, maka menghina orang lain sejatinya kita sedang menghina Sang Pencipta. (Jadi malu sendiri Kapan ya aku terakhir mencela ciptaanmu Ya Allah. Astaghfirullah aladzim)

Oke kembali pada Sunatullah.

Dalam ilmu ekonomi dan bisnis agaknya hal itu sama. Semua sudah ada Sunatullahnya. Sudah ada hukum-hukumnya. Ada dalam Al Quran dan Al Hadits. Ada baik secara tersurat maupun tersirat.

Sayangnya, kaum dogmatik nggak mau pusing membedahnya. Pokoknya setiap ada temuan kaum dogmatis ini cuma bisa bilang, semua itu sudah ada di Quran. Semua itu sudah ada haditstnya. Jadi Anda jangan coba minta orang-orang dari kelompok ini untuk menjelasin lebih detil tentang banyak fenomena. Semua sudah datang dari Allah katanya. Yaiyalah… masak ya iya dong… Hallow…

Sudahlah jangan ajak mereka debat dan berpikir. Anda bisa dituduh sesat. Bidah atau kalau sedikit lebih sial dibilang kafir.

Oke kembali ke laptop. Salah satu atau salah dua Sunatullah itu ternyata ada di bidang bisnis.

Ah yang mana? Cermati perlahan lahan. Dalam bisnis kalau Anda memakai sebuah produk dan produk itu bagus. Produk itu memuaskan Anda. Biasanya Anda akan mengabarkan (promosi) produk itu pada teman Anda. Dan akibatnya produk itu makin laku.

Loh kok bisa Makin laku. Itulah penjelasan tentang perintah-perintah agar kita selalu kafah (totalitas), termasuk dalam membuat sebuah produk. Anda kafaah. Anda totalitas. Produk Anda jadi yg terbaik. Menemukan monopoli. Diterima pasar. Dan laku.

Dalam Bidang marketing pun demikian.

Kaum ilmuwan (bukan kaum dogmatik) mencoba menemukan hukum-hukum bagaimana marketing bisa bekerja dengan sebuah sistem yang bisa membuat semua pelakunya diuntungkan. Sistem yang memungkinkan tiap orang yang mengabarkan suatu produk dan lantas ada orang yang membeli produk itu, si pengabar dapat insentif. (Bisa saja inspirasinya didapat dari perintah, “kabarkanlah kebaikan meski hanya satu hal”).

“Bukan insentif Om. Dalam agama menyampaikan walau satu ayat imbalannya disebut pahala”, kata seorang santri.

Pahala? Okelah. Apa arti sebuah nama.

Lanjut ya.

Kaum ilmuwan tidak berhenti di sana. Mereka mempelajari lebih jauh maksud dari pahala. Mereka membedah berbagai teori dan mengembangkan berbagai model bisnis. Maka mereka akhirnya menemukan formulanya.

Dalam marketing misalnya ditemukan satu hukum. Hukum dimana saat Anda memanfaatkan suatu produk (makanankah, obat-obatankah, kosmetikkah, tabungankah) dan anda merasakan manfaat produk itu, lalu anda mengabarkan manfaat itu kepada orang lain, anda tidak dapat pahala. Pahala dunia disebut komisi/fee/insentif atau apapun yang intinya bisa jadi income atau pendapatan.

Kok bisa? Bisa dong karena rumusnya, karena hukum-hukumnya sudah ditemukan. Sudah dirumuskan ditemukan.

Itulah rumusan yang kita kenal dengan bisnis jaringan. Network bisnis. MLM.

Salah satu hukum bisnis tercanggih yg ditemukan di era modern.

(Model bisnis jaringan ini, saking pasti/ eksaknya hukum itu, banyak dimanfaatkan oleh pelaku kriminal untuk melakukan penipuan dalam bentuk sistem Piramida atau skema Ponzi. Tapi apakah model bisnis jaringannya salah. Tidak.

Itu seperti saat ilmuwan menemukan rumus pembelahan atom yg menghasilkan energi nuklir. Bahwa rumus itu tidak saja dimanfaatkan untuk energi namun juga untuk bikin Bom bukan berarti rumusnya yang salah.

Begitulah bisnis jaringan. Penyalahgunaannya tidak lantas sistem bisnis jaringan itu haram bukan? Maka kita saat ini masih mengenal Oriflame (Swedia/Bang Benny AMRI) Paytren (Ustadz Yusuf Mansyur), atau CAR 3i (Bang Yani) yang dikelola profesional, oleh perusahaan raksasa dan berpengalaman puluhan tahun.

Lalu Bagaimanakah dengan AMRI? Ini pertanyaan yang menarik jika dikaitkan dengan topik pembahasan tulisan saya.

Suhu WAN bagi saya bukan hanya pebisnis hebat. Guru yg telaten. Pribadi yang gemar berbagi. Beliau ternyata adalah juga seorang ilmuwan. Guru Wan adalah seorang penemu.

Lho kok bisa?

Saya katakan Bisa. Kenapa? Karena Beliau berhasil yang merumuskan hukum-hukum Allah (sunatullah) dalam sebuah rumusan eksakta dalam bidang ritel. Dengan rumus ini, siapapun yang melakukannya (tentu atas Izin Allah) pasti akan sukses dibisnis ritel. “Aku berpikir maka aku ada”, kata filsuf Perancis Rene Descartes sebelum ia dipenjara gereja karena keberanian menggugurkan keyakinan lama kaum dogmatik.

Apa kata Suhu WAN tentang “penemuannya?”

Kurang lebih beliau bilang begini, “Kalau buka satu toko dan sukses mungkin itu suatu keberuntungan. Kalau buka 5 toko, dan semua laris, itu mungkin sebuah kebetukan. Kebetulan saya beruntung terus. Tapi kalau bukanya bukan 5 tapi 10, 20, atau bahkan hingga 80 toko dan semua sukses itu pasti ada ilmu pastinya (ada rumusnya)”.

Nah suatu ilmu disebut ilmu pasti kalau hukum hukumnya bisa bekerja dimana saja, dilakukan siapa saja, kapan saja dan pasti akan mendapatkan hasil yang sama. Dan Suhu Wan telah menemukannya. Ilmu Pasti Sukses Bisnis Ritel. Anda ingin tahu bagaimana hukum hukum Ilmu pasti Bisnis Ritel bekerja. Silahkan baca di www.ritelnews.com

Om Yani YESS (Mentor Nasional AMRI bidang Pengorganisasian Masyarakat). Ampera Raya. Sabtu, 19 Januari 2019

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment