30 Jul BERGURU PADA YANG OMSETNYA RENDAH ?
Oleh : Coach Fauzi Rachmanto
“Mosok saya diajarin oleh orang yang Omzet nya jauh dibawah saya?” Mak tratap saat saya mendengar ucapan seorang kawan ini.
Saya jadi teringat awal-awal membangun usaha, salah satu yang saya tunggu-tunggu adalah kumpul bersama teman dari berbagai komunitas kreatif dan komunitas bisnis.
Ada satu ciri yang sama dari berbagai komunitas tadi, yaitu kesetaraan.
Tidak ada pembedaan berdasarkan omzet, size business ataupun level kegantengan.
Itulah mengapa kami dulu tidak pernah memandang terlalu tinggi pada yang omzetnya lebih besar, atau merendahkan yang omzetnya lebih kecil. Semua biasa saja. Ngumpul bareng, belajar bareng, tumbuh bareng. Makan bareng.
Ah itu kan alasan yang omzet nya kecil. Okee … Thats fine. Silakan kalau mau disimpulkan demikian.
Faktanya, Apakah yang punya usaha dengan omzet buuesar, “earning per share” atau pendapatan buat pemegang saham nya pasti lebih baik dari yang omzet nya lebih sedikit?
Atau gampangnya, yang usahanya guedhe dijamin ownernya bisa bawa pulang duit lebih banyak dari yang usahanya lebih kecil?
Saya bergaul dengan banyak business leaders. Anda akan kaget jika tahu betapa sering saya bertemu pemilik usaha buesar tapi cash-less. Kaya tapi kismin pada wakatu bersamaan. Asset dimana-mana tapi saat mau mbayar satu cup Starbucks aja nyolek temen.
Lho, usaha yang guedhe itu kan kemanfaatannya pasti lebih besar dari yang kecil?
Dilihat darimana? Apa kemanfaatan hanya dari gaji yang dibayarkan pada karyawan? Kalau hanya itu kriterianya, ya.
Apa ada kriteria kemanfaatan lain? Banyak. Bagaimana dengan dampak multiplier dari layanan atau bisnis yang dilakukan.
Seorang kawan saya di Solo dulu orang tuanya mengelola usaha kecil percetakan buku cerita. Perusahaan keluarga. Tapi Anda akan kaget kalau buku cerita nya ternyata menyebar ke seluruh Nusantara dan telah ikut membentuk mental remaja Indonesia. Namanya CV Gema Silat. Penggemarnya pasti tahu. Ini jelas manfaat.
Di sisi lain, Saya yakin omzet bisnis hiburan yang konon plus-plus dan susah banget ditutup di Jakarta itu pasti guede, sehingga banyak kepentingan. Tapi apa kemanfaatannya?
Saya yakin bisnis properti raksasa yang banyak menelan lahan pertanian produktif, sampai ada yang kedapatan nyogok untuk perizinannya itu tak diragukan lagi size businessnya pasti guede buanget. Tapi sekali lagi, apa kemanfaatannya?
Anda pasti punya banyak contoh lagi.
Lhooo, tapi bisnis itu kan kalau tidak jadi besar, nanti akan kalah sama kompetitor, ditelan jaman. Habis.
Oh ya? Seperti Kodak, Nokia, Blackberry maksud Anda?
Hehehe… mereka kurang gede apa gaes. Paradigma di atas memang benar di zamannya, di zaman bigger better, di zaman kompetisi bukan kolaborasi.
Di zaman now Anda musti punya paradigma baru. Di zaman “its not the big that eat the small, but the fast that eat the slow” ini kita butuh cara2 baru.
Dan kita semua sedang dalam tahap belajar untuk bertumbuh. Tidak hanya bertumbuh dari segi size bisnis, tapi juga dari aspek kemanfaatan, kualitas pribadi, kepemimpinan, dan banyak hal lagi.
Dan dalam proses belajar tadi, semakin banyak yang terlibat, semakin baik. Berapapun size bisnisnya.
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Entrepreneur, Coach, Penulis dan Narasumber Bedah Buku AMRI
No Comments