Social Links
AMRI | BENARKAH MANTRA “INOVASI ATAU MATI?” (Bagian 1)
20110
post-template-default,single,single-post,postid-20110,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

BENARKAH MANTRA “INOVASI ATAU MATI?” (Bagian 1)

 

Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner Idolmart)

Bulan Juni tahun 2000 saya mulai merintis bisnis dengan mendirikan kios ukuran 3 x 6 meter di Cikarang Bekasi. Produk yang dijual adalah alat-tulis, asesoris dan layanan fotocopy.

Cabang toko ke-2 saya buka tahun 2001 dan cabang toko ke-3 tahun 2002. Toko ke-4 saya melakukan terobosan dan inovasi dengan menjual produk yang berbeda, yakni toko yang khusus menjual mainan dengan brand Toysmart.

Toko spesialis mainan yang saya buka terlihat cukup menjanjikan dan saya dengan cepat membuka cabang-cabang toko berikutnya. Dalam waktu 3 tahun Toymart berkembang menjadi lebih dari 20 toko.

Perkembangan team dan sistem tidak mampu mengikuti pertumbuhan bisnis yang terlalu cepat. Omset toko terus menurun dan sebagian toko mengalami kerugian.

Saya mencoba berinovasi dengan membuka 6 toko di Jawa Timur, melompat jauh dari sebelumnya hanya buka di Jabodetabek. Hasilnya ternyata tidak bagus karena saya mengalami kesulitan dalam mengirim barang.

Saya kembali berusaha melakukan terobosan lagi dengan membuka 5 toko di mall. Tidak sampai setahun 5 toko ini tutup karena tidak mampu membayar biaya sewa dan maintenance yang mahal di mall. Akhirnya saya mengalami kebangkrutan.

Gerard J Tellis dan Peter N Golden menyampaikan hasil penelitian mereka melalui buku berjudul Will and Vision, hanya 9% inovator yang berakhir sebagai pemenang puncak di pasar. Mereka juga menemukan bahwa 64% inovator langsung terpuruk.

Ternyata mantera INOVASI ATAU MATI di bisnis tidak selalu benar, bahkan kebanyakan yang berinovasi lah yang mati.

Saya tidak mengatakan inovasi tidak penting, tetapi dibanding Idolmart (bisnis saya saat ini), Toysmart (bisnis saya yang bangkrut) lebih banyak melakukan inovasi.

Tetapi jika kita hanya duduk diam, tidak melakukan inovasi dan perubahan di bisnis kita, maka dunia bisnis yang terus bergerak akan melibas kita.

So….berinovasi dapat berujung pada kebangkrutan, tidak berinovasi juga akan mengalami kegagalan. Lantas kita harus bagaimana? Apa yang saya lakukan di Idolmart sehingga mampu mencapai hasil yang berpuluh kali lipat, bahkan beratus kali lipat dibanding Toysmart?

Apakah topik saya kali ini yang “melawan arus” menarik untuk dibaca? Bukankah dengan era disruption saat ini semua orang mendewakan inovasi? Apakah menurut Bang dan Non saya lanjutkan?

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment