13 Jul BANGKIT DARI KEBANGKRUTAN
Oleh : SuhuWan *)
Suatu pagi saya ditelpon oleh salah satu pemasok saya, “Pak Wan ingat kan jika kita ada janji mau ketemu sore ini?”
“Iya Pak saya ingat” jawab saya dengan perasaan cemas.
“Tetapi tolong hari ini saya minta jawaban kongkrit kapan hutang dibayar, saya tidak mau janji-janji lagi seperti yang selama ini”.
Saat itu tahun 2005 akhir dimana saya mengalami kebangkrutan bisnis yang sudah geluti selama 5 tahun. Banyak toko saya yang tutup, sehingga hutang saya menumpuk termasuk hutang kepada supplier yang menelpon itu. Saat itu saya berada dititik nadir.
Saya naik angkot dari rumah saya di Cikarang, Bekasi menuju Cawang karena semua aset pribadi sudah saya jual, termasuk mobil yang saya gunakan. Sekitar jam 16.30 saya sampai di cawang dan saya tidak menyambung angkot, melainkan saya berjalan kaki menuju Tebet. Syukurlah saat itu walaupun pikiran “blank”, saya masih berjalan kaki di atas trotoar, andaikata saya berjalan di tengah jalan raya mungkin hutang saya kepada supplier “lunas” pada saat itu (yang lunas hutang dunia, hutang akhirat tidak).
Di perjalanan saya berusaha memikirkan jawaban kepada supplier, tetapi pikiran saya seperti buntu. Saya teringat sebuah cerita sufi, dimana saat dia terpojok di tebing dan akan dibunuh oleh musuhnya. Dia berkata, “Silahkan bunuh saya, tetapi mohon izinkan saya sholat 2 rakaat”. Syukurnya musuh membolehkan dan dia sholat. Tetapi dia tidak bisa konsentrasi sepanjang sholat karena musuh terus mengacungkan pedang ke mukanya. Dia berdoa, “Ya Allah saya sudah terpojok, jika Engkau tidak menyelamatkan saya maka niscaya saya tidak akan selamat”. Berulang-ulang doa itu dia panjatkan dan Alhamdulillah pertolongan Allah datang, ada seseorang penyelamat yang melemparkan tombak ke arah musuh dan dia selamat. Saya memanjatkan doa itu sepanjang saya berjalan kaki dari cawang ke Tebet, “Ya Allah saya sudah mentok, dibelakang saya ada tembok, jika Engkau tidak menyelamatkan saya maka niscaya saya tidak akan selamat”. Akhirnya saya ketemu dengan supplier, saya meminta agar dia mengirim barang lagi ke toko agar hutang bisa saya cicil. Awalnya supplier itu menolak dan meminta saya membayar hutang terlebih dahulu. Saya katakan,”justru untuk menyelesaikan hutang sekarang kita harus bicara ke depan, jika tidak maka masalah tidak akan selesai. Jika tidak selesai saya mau diapakan, saya pasang badan. Jika diperkarakan pun ini kan hutang dagang, masalah perdata”. Supplier itu pun menyadari konsekuensinya dan akhirnya bersedia mengirim barang lagi ke toko saya.
Saat saya berdiskusi dengan seorang mentor saya (Alhmarhum Pak Ndung), yang bertanya kepada saya,”Pak Wan sedekah nggak?”. Saya jawab, “Dulu saya sedekah, tetapi disaat bisnis saya mulai mengalami kesulitan saya mulai jarang bersedekah sampai akhirnya berhenti. Bahkan kiriman ke Ibu saya di kampung yang dulu rutin setiap bulan sudah terhenti selama hampir setahun”. Alhmarhum bilang,”seharusnya dalam kondisi begini tetap harus bersedekah”.
Saya kembali bersedekah, termasuk kembali rutin mengirim uang ke Ibu saya. Alhamdullilah akhirnya saya bisa bangkit dari kebangkrutan. Bersedekah itu artinya bersyukur, di saat bersyukur itulah kita berserah. Saya sadar di saat dalam kondisi bangkrut saya berjuang sekuat tenaga untuk bangkit, tetapi keadaan saya malah menjadi semakin terpuruk. Di saat saya berserah, artinya saya menyerahkan kepada Allah Yang Mahakuasa, dengan menyadari bahwa banyak sekali masalah dalam hidup ini yang tidak bisa kita selesaikan tanpa campur tangan Sang Pencipta. Dengan berserah akhirnya saya bisa fokus pada kemampuan saya dan kembali melihat peluang yang selama bangkrut seperti tertutup oleh kabut. Doa yang saya ucapkan saat jalan kaki dari cawang ke Tebet adalah suatu kepasrahan kepada Allah Yang Mahakuasa.
Baca ratusan tulisan saya lainnya di :
www.ritelnews.com
telegram.me/ritelnews
telegram.me/amrinasional
*) Ketua Umum AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia) dan Owner Idolmart
No Comments