Social Links
AMRI | MENCIPTAKAN VALUE BISNIS
18976
post-template-default,single,single-post,postid-18976,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENCIPTAKAN VALUE BISNIS

Oleh: Maryono *)

Bagaimana menciptakan value bisnis? Disini akan dijelaskan kiat dalam bisnis kuliner.

Dalam bisnis bagaimana membuat barang dagangannya berbeda? Baik tampilan maupun rasa. Yang utama adalah rasanya. Bagaimana membuat rasa yang paling top daripada yang lain? Rasa adalah value utama dari bisnis kuliner.

Evaluasi rasa yang ada lewat koki yang punya cita rasa tinggi. Lalu dimodifikasi lebih joss. Setelah itu dites lagi dengan beberapa food tester untuk memastikan rasa yang top dan lebih maknyus dari yang lain.

Ini sebetulnya kembali ke bauran pemasaran 5P-3C. Produk apa yang kita miliki, misalnya bakso kita benchmark ke semua kompetitor termasuk ke bakso yg paling enak di daerah bahkan di kota kita atau daerah lain sekalipun.

Lihat atmosfirnya dan rasakan baksonya, dimana kekuatan dan kelemahannya. Cari tahu apa yang paling disukai oleh customer akan bakso itu. Dan apa yang paling tidak disukai.

5P Produk Price Place Promo People dilihat dari sisi konsumen, kompetitor dan usaha kita sendiri. Lalu kita akan punya data komplit itu bisnis bakso tersebut, sehingga kita bisa mulai membuat strategi lalu lanjut ke action.

Karena value utama adalah kwalitas rasa maka produknya HARUS TER ENAK dari semua produk yang ada dipasaran. Caranya?

– Cari resep dan baca sebanyak-banyaknya
– Praktekkan resep tersebut
– Tes hasil praktek kepada orang lain atau customers
– Buat modifikasi jika masih belum sempurna
– Gali row material dari suplier-suplier minta sampel atau beli
– Buat lagi, tes lagi, cari lagi

Terus seperti itu sampai yang TER ENAK dan TERBAIK dan yang penting sebagian besar orang yang nyicipi bilang enak bahkan enak banget.

JANGAN PERNAH LELAH MENCOBA DAN IMPROVISASI !!

Saya selalu ingat, Thomas Alfa Edison mencoba ribuan kali sebelum akhirnya menemukan bola lampu yang menerangi dunia saat ini. Kolonel Sanders dengan usia yang relatif sudah sepuh juga melakukan hal yang sama.

Akhirnya belum 30 kali dicoba dalam waktu 6 bulan ternyata sudah dapat the best product. Lakukan dalam skala kecil dan trial produk dijual (tidak terbuang) sambil bertanya ke customer, “Ini produk baru, apakah ada masukan akan rasa produk ini bu/pa?” Sekalian survei.

Saya sampaikan, “Bila baru 30 kali kamu bisa dapat best product, mungkin riset yang ke 100 kali kamu bisa jadi best product In the world, WHO knows?”

Value utama kuliner adalah RASA, bila rasa produk kita top konsumen apalagi penggila kuliner tidak perlu tempat. Contoh, Nasi Goreng Kebon sirih, tempatnya sangat tidak representative tapi pelanggannya mobil semua.

Soto Betawi Haji Mamad di Serpong tempatnya biasa aja, panas, tapi mgantri terus. Kalo rasa sudah TOP maka harga sesuka penjual, Nasi Goreng Kebon Sirih tahun lalu saya makan sudah di atas 30 rb-an satu porsi sepiring standar.

Coba sekali-kali datang ke sana, sekali masak 2 penggorengan besar bisa 150 porsi lebih satu penggorengan dari jam 5 sore Sampe jam 4 subuh antri. Saya makan di sana pertama kali 1986 sudah ramai sampai hari ini. Saya hitung profitnya sudah bisa beli beberapa hotel cash.

Yang terakhir tidak kalah penting adalah FOKUS saat kita belajar mendapatkan produk yang the best tadi.

Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Deni’s Mart

Materi ini disampaikan pada seminar online AMRI Bogor

Tags:
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment