01 Mar YANG BIKIN PUSING ITU GAYA HIDUP BUKAN BIAYA HIDUP
Untuk mengenal gaya hidup (life style) tidaklah sulit karena istilah tersebut sudah sangat familiar yang berkaitan dengan perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitasnya. Sedangkan untuk mengenal biaya bisa diketahui dengan belajar ilmu akuntansi.
Kita bersyukur di AMRI ada istilah akuntansi otak kanan yang dicanangkan oleh Suhu Wan MH.
Jika ingin tahu posisi biaya berada dimana, maka dalam ilmu akuntansi berada dalam laporan laba rugi (income statement).
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) terdiri atas beberapa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Nah menurut PSAK nomor 1, laporan keuangan terdiri atas:
1. Neraca (Balance Sheet) isinya membahas tentang aset, hutang dan modal.
2. Laporan Laba Rugi (Income Statement) isinya membahas tentang pemasukan (omset), discount, margin, biaya dan profit.
3. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) isinya membahas tentang cashflow/arus kas.
4. Laporan Perubahan Modal (Change of Equity Statement).
5. Catatan atas laporan keuangan.
Biaya jika dihubungkan dengan keluarga, maka akan bertemu dengan konsep pengelolaan keuangan keluarga yang biasanya sering dibahas oleh para Perencana Keuangan (Financial Planner).
Dalam kehidupan ini sudah pasti sebuah organisasi yang paling kecil seperti keluarga membutuhkan biaya, makanya disebut sebagai biaya hidup. Dalam keluarga biasanya rumusan pencatatannya simpel, yaitu:
Pemasukan – Pengeluaran = Saldo (sisa).
Pemasukan bisa berbentuk gaji, upah, hasil usaha dan hasil investasi. Pengeluaran biasa disebut sebagai biaya pengeluaran alias biaya hidup.
Gaya hidup berkaitan dengan perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas. Jadi dalam prakteknya bisa diartikan sebagai perilaku seseorang dalam makan dan minum, berpakaian, berkendaraan dan hal lainnya yang tampak dalam bentuk aktivitas.
Ketika seseorang mempunyai standar gaya hidup yang tinggi maka otomatis biaya hidupnya bisa menjadi tinggi juga dan ketika mempunyai standar gaya hidup yang rendah maka otomatis biaya hidup menjadi rendah juga.
Sebaiknya memang gaya hidup itu disesuaikan dengan pemasukannya, sehingga gaya hidupnya tidak dibiayai dengan hutang konsumtif, karena pemasukan yang tidak cukup untuk membiayai gaya hidup biasanya akan dibiayai dengan hutang konsumtif.
Dalam mengelola keuangan perusahaan juga tidak jauh dari keputusan sang pemilik dan manajemen perusahaan dalam mengelolanya. Jika mampu mengelola keuangan perusahaan dengan baik, maka kondisi keuangan perusahaan bisa sehat.
Keuangan keluarga sehat, keuangan perusahaan sehat dan pengelolanya juga sehat jiwa dan raga, itulah tujuan utama kita dalam berbisnis.
Pusing karena biaya hidup keluarga dan biaya-2 perusahaan?
Pusing karena hutang konsumtif keluarga dan hutang produktif perusahaan?
Sebenarnya bukan biaya hidup yang bikin pusing, namun gaya hiduplah yang bikin pusing.
Selamat belajar akuntansi otak kanan di AMRI (akuntansi untuk para pengusaha sebagai dasar pengambilan keputusan).
Salam lima jari
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode
No Comments