Social Links
AMRI | MENIKMATI PROSES DAN TETAP PERCAYA DIRI SAAT MERINTIS USAHA
18699
post-template-default,single,single-post,postid-18699,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

MENIKMATI PROSES DAN TETAP PERCAYA DIRI SAAT MERINTIS USAHA

Oleh: Adib Munajib *)

Walaupun saya sudah mempersiapkan mental dan modal dengan baik, namun saat merintis usaha masih terkena serangan minder alias tidak percaya diri.

Penyebab yang saya ketahui adalah selama puluhan tahun saya pernah bekerja di perusahaan swasta nasional dengan berbagai fasilitasnya dan lingkungan keluarga yang PNS. Namun itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya dalam mengatasi berbagai serangan psikologis dan blocking mental.

Berikut beberapa cara saya memotivasi diri dan mengatasi perasaan minder saat merintis usaha :

1. Sadar diri bahwa manusia tidak ada yang sempurna, seperti dokter tidak kebal terhadap penyakit, marketer tidak kebal terhadap diskon (tawaran menarik) dan psikolog/psikiatri juga tidak kebal terhadap gangguan dan penyakit jiwa.

2. Sadar diri untuk tidak mengejar kesempurnaan, saya sangat terinspirasi kata bijak “strive for progress, not perfection”, artinya kurang lebih “kejarlah progres, bukan kesempurnaan”.

3. Mau menikmati proses karena memang harus menjalani proses, menurut penelitian Wealth X bahwa kebanyakan miliarder dunia (dalam US dollar) rata-rata telah berusia 55 hingga 64 tahun, itu juga rata-rata mereka memulai usaha sejak umur masih belia.

4. Membaca kisah sukses dan kegagalan para pengusaha untuk pembelajaran, diantaranya mempelajari berapa lama waktu yang dibutuhkan sebuah usaha untuk berhasil, ternyata waktunya relatif ada yang 10 tahunan dan 20 tahunan bahkan ada yang lebih, tergantung kemampuan pengusaha dan jenis usahanya.

5. Membuat personal branding yang authentic, apa adanya saja sesuai kenyataan sehingga tidak perlu jaga image (jaim).

6. Berpegangan dengan sudut pandang agama yang mengatakan bahwa kedudukan manusia sama dan Tuhan hanya melihat tingkat ketakwaan hambanya.

Jadi setiap ada serangan psikologis dan blocking mental saat merintis usaha, saya selalu memotivasi diri dengan mengingat poin-poin diatas, sehingga ada auto sugesti pemberdayaan alam bawah sadar yang berproses mengendap menjadi percaya diri.

Itu sekedar pengalaman saya, sebab jenis serangan psikologis dan blocking mental setiap orang berbeda-beda, sehingga penanganannya pun berbeda juga. Jika belum sanggup mengenal jenis-jenis serangan psikologis, blocking mental dan penanganannya, sebaiknya berkonsultasi kepada ahlinya.

Salam lima jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment