Social Links
AMRI | BERFIKIR MODERAT DAN BERTUMBUH
18787
post-template-default,single,single-post,postid-18787,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

BERFIKIR MODERAT DAN BERTUMBUH

Oleh: Ahmad Ali Saefudin *)

Pembahasan mengenai modal sangat menarik bagi pebisnis. Hal ini juga saya alami. Sejak banyak sekali kampanye anti hutang riba. Tiba-tiba merasa bisnis saya jadi sulit. Kok bisa ya bisnis saya menjadi seret uang kasnya? Padahal dari dahulu juga sering seret tapi terus dapat bertahan.

Barangkali ini pengaruh kampanye tersebut.

Sebelumnya mental saya sangat kuat terhadap beban hutang yang semakin besar. Tapi tiba-tiba saya tidak mau lagi mengupayakan untuk mencairkan dana dari luar. Saya putuskan untuk menghentikan beberapa operasional bisnis.

Tiba-tiba saya merasa tidak kuat terhadap berbagai tekanan. Saya sadar hutang lebih besar dari asetnya. Saya merasa dibohongi oleh bank apapun bentuknya.

Saya ambil keputusan berisiko untuk memangkas semua hutang di Bank dengan cara ekstrim dan tidak peduli dengan Daftar Hitam Nasional (DHN) oleh Bank Indonesia atau yang biasa disebut sebagai BI checking. Cara ekstrim ini perlawanan terhadap perbankan yang belakangan hari saya sadari telah salah sasaran.

Sasaran utama dalam bisnis adalah value proposition yang menghasilkan revenue stream yang tumbuh luar biasa mengalahkan Cost structure. Sederhananya, uang masuk harus lebih besar dari jumlah uang keluar. Faktanya uang saya keluar lebih banyak. Stres.

Saya hanya stres ringan berkaitan dengan pendapatan usaha yang menurun dan tiba-tiba cicilan serta pengeluaran semakin membengkak. Stok barang berkurang dan semakin tidak tersedia. Panik! Harus ambil keputusan!

Ternyata panik ada manfaatnya. Untuk ambil keputusan cepat. Saya menyadari mengelola bisnis tidak mudah. Maka inilah proses yang belum selesai. Iya bisnis tak pernah selesai.

Saya menyadari. Mungkin saya terpengaruh oleh kampanye anti hutang. Tapi keputusan sudah bulat untuk menunda pembayaran cicilan bank dan menjual sebagian aset properti untuk mengurangi pokok hutang, harus ada yang dikorbankan untuk melancarkan kembali bisnisnya. Jadi mindsetnya bukan anti hutang, tapi untuk membangun bisnis sehat.

Saat semua beban pengeluaran berkurang, otomatis pendapatan lebih besar dari pengeluaran dan bisnis sehat sebagai mindset tercapai untuk sementara sampai kita menyadari terhadap keputusan-keputusan keliru kita di masa lalu.

Babak berikutnya dengan mindset bisnis sehat adalah dengan mengupayakan kembali untuk membangun sinergi baru dengan pemodal, baik perbankan maupun dengan investor. Sebab pada prinsipnya semua hubungan tadi adalah mitra sukses.

Secara teknis butuh waktu agak lama untuk kembali mendapat pengampunan dari daftar hitam nasional. Tapi ini bagian dari proses hidup membangun pengalaman dan pembelajaran serta menempa karakter yang kuat di bisnis sehat.

Semua ada jalan. Hutang adalah keniscayaan. Seperti sebuah makanan. Ada makanan yang halal dan ada pula yang haram. Tinggal dipilih. Bukan berarti harus anti makan. Jika anti makan maka dari mana tubuh mendapati kehidupannya.

Begitulah jika kita pilih hutang baik, maka menjadi darah segar bagi bisnis untuk tumbuh. Sebab bertumbuh adalah keniscayaan. Selamat mendapatkan bisnis sehat. Selamat bertumbuh.

Salam lima jari

*) Penulis adalah Mentor AMRI

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment