Social Links
AMRI | AKUNTANSI OTAK KIRI vs AKUNTASI OTAK KANAN
20373
post-template-default,single,single-post,postid-20373,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

AKUNTANSI OTAK KIRI vs AKUNTASI OTAK KANAN

 

Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner Idolmart)

Saya hijrah dari Riau ke Jakarta tahun 1996 dan langsung ingin buka toko, karena walaupun saya bekerja sebagai accounting di perusahaan swasta, namun melihat lingkungan keluarga istri saya yang hampir semuanya pedagang (maklum orang padang?), bergaul dan bercerita setiap hari tentang dagang dan toko. Apalagi jika saat mengumpulkan sumbangan untuk membantu keluarga yang kemalangan, maka sumbangan saya biasanya paling kecil, walau sarjana sumbangan saya kalah dengan kakak ipar saya yang tidak lulus SD (padahal tokonya hanya 4×10 meter)?

Namun setiap saya semangat mau buka toko, secara otomatis “otak accounting” saya akan segera langsung menganalisa, dan setiap selesai menganalisa maka ada 2 kesimpulan yang akan kita ambil, yakni LAYAK atau TIDAK LAYAK, dan ketemu oleh saya setiap selesai menganalisa adalah kesimpulan TIDAK LAYAK?. Selama berapa tahun saya punya keinginan membuka toko dan selalu gagal karena “TIDAK LAYAK”? 4 tahun lamanya !!! Jika ada Bang dan Non yang sudah rencana buka toko 1 atau 2 tahun yang lalu dan sampai saat ini belum buka juga jangan kuatir, masih kalah dengan saya yang 4 tahun dalam dunia TIDAK LAYAK?

Suatu ketika ada teman mau buka toko (alat tulis dan fotokopi) di Tanggerang dan bercerita kepada saya mesin fotokopi beli dengan cicilan, toko disewa dan langsung bertanya kepada saya,”Wan kamu kan Akuntan dan jago menghitung, coba hitung rencana usaha saya ini layak atau tidak”. Segera saya langsung menganalisa dan pasti sudah bisa diduga jawaban saya “Tidak layak”. Syukurnya teman saya ini bandel dan tidak mau mendengarkan omongan seorang akuntan yang “berpengalaman”? Satu tahun kemudian saya berkunjung ke teman saya ini dan begitu melihat saya kaget, tokonya ramai dan punya 3 mesin foto copy. Lantas saya bertanya,”apakah ini toko yang dulu kamu ceritakan kepada saya?”
“Benar,”jawab teman saya,”yang kamu bilang saat itu tidak layak ya”?. Saat itu saya sudah mulai “ragu” dengan ilmu akuntansi yang saya pelajari, ini ilmu benaran bukan ya??

Setelah itu ada seorang teman seorang karyawan yang bercerita kepada saya jika dia mau mengambil (take over) angkot second dan masih mencicil setiap bulan. Angkotnya diserahkan pada supir dengan setoran perhari. Teman saya ini juga bertanya pada saya, apakah bisnis “angkot” ini layak atau tidak. Saya hitung dan jawabannya bisa ditebak “tidak layak”. Teman saya sama bandelnya dengan teman yang diatas tetap mengambil angkot, dan 6 bulan kemudian dia mengambil angkot yang kedua. Saat itu langsung saya memvonis “Ilmu Akuntasi itu tidak benar”. Akhirnya saya berhasil membuka kios ukuran 3×6 meter di pasar perumahan Cikarang Baru, Bekasi setelah tidak menggunakan “Ilmu Akuntasi saya”?

Setelah sekian lama berkecimpung di bisnis saya tahu apa yang tidak benar di Akuntasi itu:
PERTAMA, Akuntasi itu data basi, data historis, data yang sudah lewat, Akuntasi tidak bisa menghitung “potensi”, lokasi yang strategis tidak dihitung oleh Akuntasi, pelayanan yang baik tidak dihitung oleh Akuntasi, promosi yang bagus tidak bisa diprediksi oleh akuntansi.
KEDUA, banyak hitungan yang salah dalam Akuntasi, misalnya depresiasi (penyusutan) mesin fotocopy itu dihitung penyusutannya, angkot juga dihitung penyusutannya, misalkan harga angkot Rp 60 juta dan hanya boleh disusutkan paling lama (menurut akuntansi) adalah selama 5 tahun. Jadi Rp 60 juta dibagi 60 bulan akan muncul Biaya Penyusutan Rp 1 juta per bulan (agar gampang saya tidak menghitung nilai sisa) yang harus masuk dalam analisa perhitungan “kelayakan”. Inilah letak permasalahannya, coba kita lihat metro mini yang Sekarang masih berkeliaran di jalan itu ada yang usianya 20 tahun bahkan 30 tahun, masih layak tidak? Masih untung tidak? Masih, jika tidak layak pasti sudah dibesituakan?

Bahkan Laba rugi yang disusun itu saja juga “bisa salah” karena ada biaya penyusutan bangunan yang nilai bangunannya sudah tidak menggambarkan nilai riil (harga sudah 5 kali lipat, walaupun ada dimungkinkan revaluasi). Jadi jika di laporan laba rugi itu laba, mungkin aslinya rugi atau sebaliknya. Nah jika begitu “percuma dong Akuntasi?” Tidak percuma juga, kan minimal Kita bisa membandingkan laporan keuangan satu periode dengan periode sebelumnya. Misalkan menurut Akuntasi, perusahaan laba tahun 2015 Rp 100 juta, laba tahun 2016 Rp 150 juta. Mungkin saja perusahaan ini sebenarnya rugi (karena hitungan yang keliru), namun di Akuntasi itu ada konsep “konsisten” yakni cara menghitung untuk tahun yang dibandingkan metode penghitungannya harus sama (konsisten), sehingga bisa disimpulkan bahwa “kondisi keuangan perusahaan tahun 2016 lebih baik dari tahun 2015”. Walau sama sama salah namun salahnya “konsisten”?

Hal yang saya sampaikan di atas akhirnya saya sadari bahwa dulu “ilmu Akuntasi” yang saya pelajar itu adalah AKUNTASI OTAK KIRI (mulai dari sekolah di SMEA, kursus bon A dan bon B, kuliah di s1, mengajar, kerja sebagai akuntan dan internal auditor dll) atau akuntasi untuk karyawan dan bukan Akuntasi untuk pengusaha (AKUNTASI OTAK KANAN)?

Insya Allah pada buku ke-2 saya nanti akan lebih detail saya menjelaskan tentang akuntansi otak kanan. Sedang siap-siap naik pesawat pagi ini dari Pekanbaru ke Jogjakarta.

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
1Comment
  • Reza
    Posted at 12:15h, 14 Januari Balas

    Luar biasa so inspired suhu

Post A Comment