05 Okt PENDERITAAN DAN KENIKMATAN
Oleh : Suhu Wan MH (Ketum AMRI & Owner Idolmart)
“Kadang desing peluru
Dan dentum meriam musuh
Memaksanya mundur
Namun jerih rintih
Rakyat yang sakit
Mendesaknya maju
Berbekal sebatang bambu
Dia menyerang sambil berkata
Penjajah mesti musnah
Dengan tekad bulat
Dengan penuh keyakinan
Kita pasti merdeka”
Ungkapan diatas adalah lirik lagu dari Doel Sumbang yang menggambarkan kisah seorang perjuang kemerdekaan. Kadang kala cobaan, tantangan dan ancaman peluru musuh yang dapat menyebabkan kematian membuat dirinya mundur. Namun karena melihat penderitaan rakyat kembali menggelorakan semangat dan membuat dia kembali maju berperang tanpa takut mati.
Sama halnya disaat kita berjuang dalam mengembangkan bisnis ada saat dimana kita menghadapi tantangan dan berbagai cobaan yang kadang kala membuat kita ingin menyerah, menutup bisnis atau “cukup bertahan” dengan kondisi yang ada. Rasa letih dan lelah dengan semua tekanan adalah hal yang manusiawi dan dapat menimpa siapa saja.
Saat bangkrut dulu, tekanan yang sangat hebat, dikejar-kejar hutang, rumah setiap malam sering ditongkrongin debt collector, diancam dipenjara bahkan akan dibunuh…kadang-kadang membuat saya ingin menyerah. Setegar apapun saya berjuang tetap saja di saat-saat tertentu saya merasa letih dan terbangun di tengah malam saya menangis sesugukan dalam susana malam yang sepi.??
Semboyan “never give up” yang selalu terdengar seolah-olah tidak berpengaruh saat itu. Kata-kata “harus bangkit” yang sering saya lontarkan disaat menyemangati orang lain, ternyata setelah mengalami sendiri hanyalah kata-kata yang mudah untuk diucapkan namun sulit dilakukan bagi yang mengalami.
Tetapi jika saya berhenti berjuang, berhenti untuk berbisnis, melarikan diri dari kenyataan yang ada…saya sadar konsekuensi yang akan saya hadapi terutama penderitaan bagi isteri dan anak-anak saya.
Taufik anak bungsu saya yang saat itu masih TK, suatu hari membeli es durian gerobak yang lewat di depan rumah seharga Rp 4.000. Dia yang memang sangat doyan buah durian menikmati dengan sangat lahap sambil berucap,”Ya Allah Ma, enak banget”.??
Mimik saat dia menikmati es durian (seperti saat makan buah durian asli) diiringi dengan kata-kata polos, apalagi sudah lama tidak pernah mendapatkan buah kesukaannya, membuat saya terenyuh, perasaan bergelora, memaksa saya harus berjuang dan mengharamkan kata-kata “menyerah” dalam kamus hidup saya. Seorang tetangga yang baik hati sempat melihat langsung kejadian itu, lalu besoknya membawa semangkok durian untuk Taufik.
Bukan hanya penderitaan yang akan saya dan keluarga alami andaikan saya give up yang membuat “terbakar”, namun membayangkan “kenikmatan” yang akan saya raih jika bisnis saya sukses, kenikmatan kenyamanan, kenikmatan bisa berbagi kepada banyak orang dan kenikmatan lainnya. Jadi disaat ada perasaan mau menyerah bayangkanlah dua hal:
1. Apa penderitaan yang akan kita/keluarga alami jika menyerah
2. Apa kenikmatan yang akan kita dapatkan jika kita berhasil
Dengan membayangkan dua hal itu secara bersamaan, maka saya memiliki bahan bakar yang luar biasa untuk energi bangkit sehingga tidak mengenal lagi kata menyerah. Pejuang kemerdekaan membayangkan penderitaan rakyat yang dijajah sekaligus kenikmatan jika Indonesia merdeka.
Namun ada sedikit catatan yang agak menyedihkan dari lanjutan lagu ini, penghargaan kita yang kurang bagi pejuang Bangsa ini.
“Akhirnya kemerdekaan pun tiba
Teks Proklamasi dibacakan Bung Karno
Dia berdiri tegak sambil kibar sang saka
Masa depanku mulai cerah katanya
Namun apa yang ia terima hari ini
Tak secerah dugaannya semula
Ia hanya mendapat tanda jasa
Yang tak dapat dipakai penyambung nyawa”
Keadaan negeri kita hari ini belum menggambarkan penghargaan kita pada para pejuang yang rela mengorbankan jiwa raganya bagi bangsa ini.
Merdeka✊
Salam ✋jari AMRI
No Comments