Social Links
AMRI | JANGAN MELIHAT DIRI KITA SEPERTI APA ADANYA, LIHATLAH SEPERTI APA SEHARUSNYA
19965
post-template-default,single,single-post,postid-19965,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

JANGAN MELIHAT DIRI KITA SEPERTI APA ADANYA, LIHATLAH SEPERTI APA SEHARUSNYA

Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner 85 Idolmart)

Saat mau hijrah ke Jakarta tahun 1996 hampir semua keluarga besar saya keberatan dikarenakan saat itu saya sudah bekerja sebagai Chief Accounting di sebuah perusahaan swasta di Riau disamping saya juga masih mengajar, sementara di Jakarta saya harus mencari dan melamar perkerjaan. Selain itu saya juga sudah bekeluarga dan memiliki 1 anak sehingga keluarga besar saya kuatir dengan bagaimana nanti nasib saya dan anak istri di Jakarta.

Disinilah terletak perbedaan keyakinan keluarga besar/orang lain terhadap diri saya dengan keyakinan saya sendiri.

ORANG LUAR MELIHAT KITA SEPERTI APA ADANYA KITA,
NAMUN KITA HARUS MELIHAT DIRI KITA SEBAGAI APA SEHARUSNYA.

Akhirnya pada bulan Juni 1996 setelah Nada (anak pertama saya) berumur 40 hari saya hijrah ke Jakarta walaupun dengan keluarga besar tetap tidak menyetujui. Saya hanya minta doa restu kepada ibu saya agar mengijinkan saya berangkat, Alhamdulillah Ibu saya mengizinkan.

Kadang-kadang apa yang kita rencanakan dalam hidup kita seperti hijrah, keluar kerja, mendirikan bisnis dll belum tentu akan disetujui oleh keluarga dan orang-orang disekililing kita karena mereka MELIHAT DIRI KITA SEPERTI APA ADANYA. Dengan keyakinan yang kita miliki kita mampu melihat SEPERTI APA DIRI KITA SEHARUSNYA yang tidak bisa dilihat oleh orang diluar diri kita.

Tetapi saat itu saya hanya berpikir positif bahwa keluarga besar melarang saya hijrah itu bukanlah karena mereka tidak ingin saya maju namun karena mereka sayang dengan saya dan tidak ingin melihat saya harus menderita. Ini menjadi pacuan buat saya agar saya harus bisa sukses dalam perantauan.

Baru 1 bulan saya di Jakarta dan sedang mencari-cari pekerjaan saya mendapat panggilan kerja dari suatu bank swasta di Riau (kampung saya) yang pernah mewawancari saya sebelum saya hijrah ke Jakarta, dan keluarga mendesak saya untuk pulang kampung, namun tekad saya tetap saya tidak akan mundur sampai saya berhasil. Jembatan penyeberangan sudah saya bakar dan tidak ada jalan untuk mundur.

Kenapa banyak perantau yang bisa sukses?
Karena disaat kita masih di kampung, dalam lingkungan keluarga besar, kita kurang menyadari kelemahan diri kita. Misalnya saat lewat di depan tetangga kita tidak perlu menyapa karena semua lingkungan mengenal kita dan orang tua kita, tetapi di perantauan kita harus bergaul dengan baik dan ramah, disinilah terasah kemampuan kita dalam bersosialisasi.

Sebagai orang timur jika kita ada rencana melakukan sesuatu, apakah mau pindah kerja atau membuka bisnis, maka kita biasanya akan ngomong ke keluarga besar dan disaat mereka tidak setuju maka kita sungkan untuk membantah. Begitu kita merantau maka kita menjadi lebih bebas menentukan apa yang kita inginkan dan mewujudkan keyakinan yang kita miliki.

Saya yakin saaat itu…sangat yakin saya akan berhasil dalam perantauan, dan saya juga yakin bahwa sikap keluarga besar saya suatu hari nanti akan mendukung keputusan yang saya ambil. Sikap dan penolakan mereka saat ini hanyalah sementara dan saya jadikan sebagai cambuk untuk saya memang harus berhasil, SEKALI LAYAR TERKEMBANG PANTANG SURUT KE BELAKANG.

Alhamdulillah seluruh keluarga besar saya yang dulunya tidak setuju saya merantau ke Jakarta seluruhnya hari ini sangat setuju dengan keputusan yang saya ambil dulu?. Bukti persetujuan mereka adalah banyak adik dan ponakan saya yang akhirnya juga hijrah ke Jakarta mengikuti saya dan sudah memulai usaha ritel (toko sendiri). Sekarang hampir rutin setiap bulan (bahkan kapan saja jika mau) saya pulang kampung menjenguk Ibu.?

Selamat Ulang Tahun Negaraku Indonesia
MERDEKA

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment