Social Links
AMRI | KEBERUNTUNGAN LEBIH PENTING DARI KETERAMPILAN & KERJA KERAS ? (Bagian 3)
19919
post-template-default,single,single-post,postid-19919,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

KEBERUNTUNGAN LEBIH PENTING DARI KETERAMPILAN & KERJA KERAS ? (Bagian 3)

Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner 85 Idolmart)

Bill Gates, orang terkaya dijagad ini, memiliki keberuntungan yakni lahir tahun 1954 di AS (demikian juga jawara komputer ang lain seperti Paul Allen tahun 1954, Steve Jobs 1955). Jika beliau lahir 20 tahun kemudian akan kehilangan momen, sedangkan jika lahir 1000 tahun yg lalu belum ada komputer.

Selain itu Bill Gates juga beruntung dilahirkan di negara AS dan di tengah keluarga kaya sehingga bisa masuk ke Likeside School dan belajar pemograman. Bill Gates memang beruntung, tetapi ada ribuan orang lain yg lahir di AS dg kondisi yg sama (bahkan lebih baik) kenapa tidak sesukses Bill Gates?

Siapa diantara ribuan orang tersebut yang memangkas waktu tidur nyaris nol? Menyantap makanan secepat mungkin agar tidak mengganggu waktu kerja, putus kuliah dan pindah ke mexico bekerja dg Altair? Berapa banyak menulis Basic untuk Altair? Mendebug-nya dan siap mengirim sebelum orang lain? Ribuan orang bisa saja melakukan hal yg sama persis spt Bill Gates tetapi mereka TIDAK MELAKUKANNYA.

Perbedaan antara Bill Gates dg orang2 serupa bukanlah keberuntungan, tetapi bagaimana memanfaatkan keberuntungan dengan menciptakan IMBAL HASIL ATAS KEBERUNTUNGAN (Return On Luck/ROL). ROL juga adalah sesuatu yang “benar-benar nyata” dan sangat berpengaruh pada keberhasilan setiap orang seperti halnya Bill Gates.

Disisi yang banyak sekali orang yang dilahirkan dari keluarga yang miskin dengan kehidupan yang jauh dari keberuntungan, namun terbukti sangat sukses seperti Larry Ellison (Oracle), Howard Schultz (Starbuck), Oprah winfrey dll. Mereka sukses karena usaha atau imbal hasil atas ketidakberuntungan yang terjadi pada dirinya.

Saya berasal dari keluarga yang miskin, dahulu ibu saya berdagang sayur di pasar. Saat di SMK dan kuliah saya membiayai sekolah sendiri, mulai dari berdagang asongan, kerja di rumah potong hewan dll, menjadikan motivasi saya agar bisa lulus tepat waktu. Setelah lulus kuliah di Pekanbaru, saya merantau di Jakarta dengan tekad akan membantu mengangkat perekonomian keluarga, keluarga besar saya.

Alhamdulillah, walaupun awal perantauan saya ke Jakarta dahulu sempat dilarang oleh keluarga, hari ini seluruh keluarga mendukung, terbukti dengan banyaknya adik dan ponakan2 yang mengikuti jejak saya menjadi pengusaha. Kemiskinan keluarga adalah bahan bakar utama bagi motivasi saya untuk selalu berhasil.

Saat anak-anak saya agak kendor dengan pendidikannya, saya berkata,”Pendidikan papa bisa berhasil karena papa miskin dan membiayai sendiri, sementara kalian harusnya lebih sukses karena sudah ada semua. Apakah papa harus miskin dulu agar kalian bisa menjadi sukses?”

Seberapa bagus atau jelek pun keberuntungan kita, yang penting adalah sikap dan tindakan atau imbal hasil kita terhadap keberuntungan (ROL) itulah yang penting. Walaupun keberuntungan bagus tetapi kita tidak mengambil tindakan atas keberuntungan maka ROL tetap jelek. Sebaliknya keberuntungan jelek tetapi kita mengambil tindakan yang bagus maka hasilnya tetap bisa bagus.

Bagaiamana hubungan keberuntungan dengan ketetapan dan ketentuan Allah (Qadarullah)? Silahkan tetap menyimak lanjutan tulisan ini.

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment