25 Jul MASALAHNYA : BUKAN KEKURANGAN MODAL
Suatu hari di tahun 2003 saya berkunjung ke kios milik seorang teman di pasar perumahan Cikarang Baru, Bekasi. Bisnis ritel saya yang pertama berupa kios ukuran 3 kali 6 meter juga saya buka di lokasi yang sama, jadi kita sebenarnya tetangga kios. Selain kios disitu saya sudah membuka 2 toko yang lain.
Teman saya itu curhat, jika keuntungan dari kiosnya tidak bisa memenuhi lagi kebutuhan hidupnya, sehingga setiap bulan stok barangnya terus berkurang (makan modal), akibatnya omset juga menurun dan minusnya semakin banyak.
Saya bilang,”Tidak bisa toko dalam kondisi minus atau makan modal begini, karena stok barang akan terus berkurang, akibatnya omset akan menurun terus, kerugian akan semakin besar dan akan menunggu waktu….tokonya akan berakhir dengan kebangkrutan”.
Dia menjawab,”Iya saya juga bingung, saya sudah tidak punya dana untuk menambah modal, mau pinjam juga bingung mau kemana, kios saya ini sudah kekurangan modal. Coba Bang Wan kasih saran pada saya, karena Bang Wan sekarang sudah punya 3 toko, padahal saya sudah punya kios jauh sebelum Bang Wan buka kios yang pertama disini”.
Satu jam saya duduk di warungnya saya perhatikan memang ada pelanggan yang bertanya obat anti nyamuk, stok nya habis, ada yang mau beli gula pasir, jawabnya kosong.
Saya tanya,”Tadi yang diminta kan barang yang sangat laku (fast moving) kenapa kosong?”
Dia jawab,”ya itulah Bang, saya kekurangan modal”
Tetapi anehnya ada barang yang stoknya berlebih seperti minuman energi suatu merek yang stok nya ada 2 karton.
Saya tanya, “Minumam energy ini laku banget disini ya?”
Dia jawab,”nggak juga sih, paling cuma 1 lusin per minggu”.
“Diantar atau kita ambil sendiri?”tanya saya lagi
“Diantar” jawabnya
“Setiap berapa lama dia datang?”
“Setiap minggu”
“Cash atau kredit?”
“Cash”
“Kok aneh, beli cash, barang diantar, tiap minggu datang, lakunya hanya 1 lusin perminggu, kenapa tidak beli 1 lusin saja? kenapa mesti 2 karton sekaligus?” tanya saya.
“Kan jika beli 2 karton saya dapat diskon 5%, jadi dapat harga lebih murah Bang” jawab dia.
“Berapa % kamu mengambil Keuntungan rata-rata disini?”tanya saya lagi penasaran.
“15% Bang” jawabnya.
“Kamu korbankan keuntungan 15% hanya mengejar diskon yang 5%, padahal jika kamu tidak mengambil 2 karton tetapi cukup 1 lusin kan uangnya bisa dibelikan obat anti nyamuk, gula pasir dll yang kosong” jelas saya.
Ternyata minuman energy itu hanyalah salah satu contoh, banyak barang lain yang stoknya kelebihan (karena mengejar diskon pembelian yang hanya 2% sampai 5%). Dia bilang KEKURANGAN MODAL, PADAHAL SANGAT BANYAK MODAL BERLEBIH DI TOKONYA.
Saran saya stok kelebihan itu dijual murah (diskon). Akhirnya dia menjual stok berlebihnya kepada kios/toko lain agar cepat laku dengan harga modal bahkan ada sedikit dibawah modal. Cash hasil penjualan itu dia belikan barang yang kosong, dan Alhamdulillah hanya dalam tempo waktu tidak sampai 2 bulan, omset kiosnya naik dan bisa menghasilkan keuntungan kembali.
Kasus seperti teman saya ini sangat sering saya jumpai di warung atau toko-toko yang lain. Banyak jenis barang tertentu yang stoknya berlebihan, sementara banyak jenis barang lain yang stoknya kosong. Yang lebih parah, yang kosong itu barang yang sangat laku (fast moving), yang kelebihan itu barang yang kurang laku (slow moving).
Kasus yang lain seorang teman pemilik sebuah minimarket di Cikarang bercerita dengan bangga pada saya jika dia membeli beras sekarang langsung dari distributor dengan kelebihan barangnya diantar dan malah dapat kredit 21 hari, bisanya dia belanja di Cipinang ambil sendiri dan harus bayar cash.
Saya bilang,”Kamu harus hati-hati biasanya belanja dari distributor itu kan ada minimal pengembilan, tidak bisa sedikit”.
Ternyata benar setelah dihitung minimal pengambilan untuk setiap kali belanja dibanding omset nya baru akan habis dalam tempo 6 bulan.
“Tetapi saat jatuh tempo 21 hari saya bayar kok dan uangnya ada” jawab teman tersebut.
Saya jawab,”Benar Saat jatuh tempo 21 hari itu kamu bisa bayar, tetapi itu bukan uang dari beras, itu uang barang yang lain seperti dari sabun, dari gula, dari minyak goreng dll”.
Setelah 1 tahun dia bercerita dengan saya, saya tidak pernah ketemu lagi karena saya juga sudah pindah rumah, dan saat saya jalan ke Cikarang lewat depan minimarket nya ternyata Sudah tutup dan di dekat situ sudah berdiri Ritel modern ternama yg sudah punya ribuan outlet.
Semoga bermanfaat
Salam ✋ jari AMRI
No Comments