25 Jul GIANT TUTUP 6 GERAI, APA PENYEBAB RITEL SUPERMARKET BERGUGURAN?
Oleh : Suhu Wan (Ketum Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia & Owner 85 Idolmart)
PT Hero Supermarket Tbk kembali akan menutup 6 gerai Giant pada 28 Juli 2019 ini setelah pada tahun lalu menutup 26 gerai Giant. Tutupnya Giant ini menambah panjangnya daftar peritel supermarket, departement store dan hipermarket yang telah menutup beberapa gerai sebelumnya yaitu Hypermarket, Debenhams, Lotus, Central, Centro, Metro, Matahari dan Ramayana.
Apa penyebab para peritel modern ini sampai menutup beberapa gerainya? Saya melihat ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yakni:
1. Penyebab utama adalah ketatnya persaingan di industri ritel terutama dengan berkembangnya secara masif ritel dengan format minimarket yang dimotori 2 brand yaitu Alfamart dan Indomaret. Tahun 2009 total ke-2 minimarket itu baru ribuan, saat ini sudah lebih dari 31 ribu gerai. Artinya pelanggan yang tadinya rajin belanja ke supermarket dan hipermarket beralih belanja ke minimarket yang berada lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Sebagai contoh perbandingan, omset Alfamart pada tahun 2009 baru Rp 10,56 triliun, tahun 2018 berjumlah Rp 68,82 triliun atau telah meningkat sebanyak 6,5 kali lipat. Sedangkan Giant/Hero omset tahun 2009 Rp 6,65 triliun, tahun 2018 Rp 12,97 triliun atau hanya meningkat sebanyak 2 kali lipat. Supermarket yang lain juga sama, walalupun selama total omset saat ini naik dibanding 10 tahun yang lalu, namun kenaikannya sangat jauh dibawah minimarket Alfamart dan Indomaret.
2. Selain kalah dari minimarket, diantara supermarket juga terjadi persaingan yang ketat diantaranya dengan masuknya pemain baru seperti lottemart dan GS dari Korea Selatan. Dari dahulu juga beberapa supermarket sudah buka tutup, maksudnya mereka membuka gerai baru tetapi ada gerai lama yang kurang potensial mereka tutup. Secara keseluruhan di tahun 2018 supermaket yang dibuka (pemain lama ataupun baru) tetap lebih tinggi dari supermarket yang ditutup.
Dengan persaingan yang ketat tentu dibutuhkan inovasi bisnis yang lebih baik. Peritel yang berinovasi lebih baik dan dapat mengikuti perkembangan zaman tentu akan lebih kuat untuk bertahan. Hero adalah peritel awal yang berdiri di Indonesia dan sangat baik dalam inovasi. Belakangan inovasinya sudah berkurang dan kalah dibanding peritel yang lain. Manajemen termasuk pengelolaan cashflow tentu juga menentukan peritel mana yang bertahan dan mana yang akan tumbang.
3. Perkembangan teknologi dan perubahan cara berbelanja, terutama kaum milienial, dari ritel offline ke ritel online. Walaupun prosentase transaksi penjualan bisnis e-commerce masih dibawah 2% dari transaksi ritel secara keseluruhan, namun untuk di kota-kota besar transaksi e-commerce bisa di atas 20%. Supermarket/Hipermarket yang tutup berada di kota-kota besar terutama di Jakarta.
4. Perubahan gaya hidup (lifestyle) orang yang lebih banyak melakukan travelling turut mempengaruhi pola belanja. Pengunjung yang ke supermarket menjadi berkurang karena mereka lebih berhemat dalam berbelanja agar bisa menyesuaikan dana dengan tuntutan gaya hidup. Mall yang masih ramai justru yang memadukan tempat berbelanja dengan tempat bermain, tempat makan dan nongkrong serta tempat menonton.
5. Kondisi perekonomian global yang sedang menurun dan berdampak menurunnya daya beli, turut menyebabkan turunnya pertumbuhan ritel dalam beberapa tahun terakhir.
No Comments