25 Jul Investasi
Saya pernah diajak teman di Bali makan nasi goreng seharga 150 ribu rupiah sepiring. Mau tahu bagaimana rasa masakannya? Jujur saja tidak enak.?
Walaupun tidak enak dan cukup pedas, tetap saja nasi gorengnya saya habiskan tanpa sisa. Tahu kenapa? Karena harganya sangat mahal dan rasanya rugi jika disisakan.? Bahkan setelah makan itu perut saya sempat mulas.?
Seorang teman menceritakan bahwa tokonya sudah merugi dari waktu ke waktu tetapi tetap dipertahankan karena sudah terlanjur menanamkan modal yang besar disitu. Alasannya sayang jika ditutup, walaupun setiap waktu dia harus menambah modal lagi. Persis seperti nasi goreng yang tidak enak tetap dimakan karena harganya mahal.?
Banyak kegagalan orang berinvestasi karena merasa “sayang dan takut rugi” ini. Setelah menanam investasi sekian di satu bisnis, rugi, tetap saja investasi ditambah walaupun rugi semakin besar.
Pemain money game atau ponzi sering memanfaatkan psikologi umum ini untuk mempertahankan downline-nya. Judi juga menggoda para pemain judi yang merasa rugi dengan kekalahan yang lalu, terus berjudi sampai uang habis.?
Seharusnya kita bisa berpikir secara nalar dan jangan terjebak pada keputusan keliru di masa lalu. Investasi atau bisnis yang rugi namun bersifat sementara, dimasa yang akan datang kita yakin bisnis ini akan menguntungkan, ini masih bisa kita pertahankan. Jika tidak, ya sudah bisnis yang merugikan itu lebih baik kita tutup, dihentikan atau kita pindah ke lokasi lain.
No Comments