Social Links
AMRI | KEBERUNTUNGAN LEBIH PENTING DARI KETERAMPILAN & KERJA KERAS ? (Bagian 2)
19819
post-template-default,single,single-post,postid-19819,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

KEBERUNTUNGAN LEBIH PENTING DARI KETERAMPILAN & KERJA KERAS ? (Bagian 2)

Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner 85 Idolmart)

Sebagian orang berpendapat bahwa kesuksesan seseorang semata-mata karena faktor keberuntungan, bukan karena keterampilan dan kerja keras. Sebagian orang ada pula yang berpendapat kesuksesan sepenuhnya berasal dari keterampilan dan kerja keras, keberuntungan tidak memegang peranan sama sekali.

Menurut saya kedua pendapat ekstrim diatas adalah keliru. Seseorang yang sukses karena semata-mata faktor keberuntungan itu jika disuruh melempar koin sebanyak 50 kali akan keluar berturut-turut angka, mustahil bukan? Sebaliknya banyak juga orang yang terampil dan pekerja keras yang gagal.

Beberapa profesi seperti pilot, dokter, pengacara sangat memerlukan keterampilan ketimbang keberuntungan. Sementara di bidang yang lain, keterampilan juga diperlukan tetapi berperanan lebih kecil dibanding keberuntungan, seperti pengusaha dan pemimpin.

Apakah arti keberuntungan itu sebenarnya? Keberuntungan itu adalah suatu situasi, kondisi dan pristiwa yang berdampak secara signifikan dan terlepas dari peranan kita (sebagai aktor utama) didalamnya.

Apa masudnya berdampak signifikan? Jika berangkat ke kantor pada hari ini lebih lancar 5 menit dari biasanya 2 jam, itu tidak disebut keberuntungan karena berdampak kecil. JIka kita harus sampai di kantor dalam tempo 1 jam karena ada deal bisnis yang sangat penting, waktu tempuh 2 jam (yang biasanya macet), tahu-tahu lancar dan dalam 1 jam kita sampai dikantor, ini bisa disebut keberuntungan, karena berdampak besar.

JIka mempercepat waktu tempuh dari 2 jam menjadi 1 jam itu karena kita meminta pengawalan voorijder atau kita menyewa helikopter, itu bukan keberuntungan karena ada peranan kita sebagai aktor utama atas kejadian tersebut.

Keberuntungan selalu diidentikkan dengan situasi yang bagus dan positif, padahal bisa saja sebaliknya yakni jelek atau negatif. Perjalanan yang biasanya 2 jam menjadi 5 jam karena ada kecelakaan. Keberuntungan yang jelek ini kadang disebut ketidakberuntungan atau kesialan.

Bagaimana sebenarnya keberuntungan itu terjadi? Kapan dan kenapa keberuntungan itu terjadi? Tidak ada yang bisa menganalisa dan menjawab pertanyaan ini secara logika. Keberuntungan itu tidak terprediksi dan bekerja secara acak baik dari sisi waktu, kondisi, kejadian atau siapa yang mengalaminya.

Jika berlaku dan terjadi secara acak, terus bagaimana selanjutnya? Jika keberuntungan bisa menjadi faktor yang dominan untuk keberhasilan, apa yang bisa kita lakukan terhadapnya?

Menurut saya yang penting bukan keberuntungannya (luck) atau ketidakberuntungan (unluck) yang terjadi pada kita, melainkan Return on luck (ROL), apa itu? Apakah Bang dan Non masih mau membaca sambungan tulisan ini??

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment