Social Links
AMRI | Bisnis Ritel Sedang Lesu, Masyarakat Lebih Senang Nongkrong di Tempat Hits
19807
post-template-default,single,single-post,postid-19807,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

Bisnis Ritel Sedang Lesu, Masyarakat Lebih Senang Nongkrong di Tempat Hits

RITELNEWS.com – Bisnis ritel tanah air yang sedang lesu belakangan ini masih menujukan bahwa masalah dalam industri ritel belum akan segera berakhir. Terlebih, perusahaan ritel yang sudah kesohor di Indonesia, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) pada akhir Juli 2019 nanti akan resmi menutup enam gerai Giant.

Tutupnya enam gerai Giant ini, menurut data yang dihimpun dari katadata.co.id, disebabkan bukan hanyak karena dipengaruhi pergeseran kebiasaan belanja masyarakat dari gerai offline ke online.

Diketahui, tutupnya beberapa gerai ritel besar lebih disebabkan oleh semakin ketatnya persaingan ritel offline dan perubahan strategi bisnis penjualan dalam perusahaan tersebut.

Bahkan, Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita berpendapat, banyaknya tutup gerai-gerai ritel besar bukan karena masyarakat tidak mampu membeli, melainkan saat ini dengan semakin canggihnya teknologi yang ada masyarakat lebih senang menggunakan uangnya untuk kepentingan lain.

“Saat ini masyarakat lebih banyak menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan, makan-makan, dan nongkrong di tempat hits,” kata Enggar beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dengan begitu, lanjut Enggar, masyarakat sekarang lebih memprioritaskan bukan lagi beli barang-barang. “Tapi meraka saving untuk leisure untuk hangout, untuk food and beverage dan itu nampak, ini bukan hanya derita dan kata-kata,” jelasnya.

Dengan adanya fenomena tersebut, daya beli masyarakat bukan menjadi faktor utama dalam lesunya bisnis ritel modern yang terjadi saat ini. Yakni lebih disebabkan terjadinya pergeseran pola hidup di dunia dengan teknologi yang semakin canggih, juga perubahan perilaku belanja masyarakat itu sendiri.

Untuk diketahui, di sepanjang tahun ini, HERO setidaknya telah menutup 32 gerai retailnya setelah sebelumnya menutup 26 gerai Hero Supermarket. Bahkan, penutupan gerai retail di bawah naungan HERO ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Pada 2018, gerai yang dimiliki HERO berjumlah 445 yang terdiri atas 82 gerai Giant Ekspres, 57 Giant Ekstra, 3 Giant Mart, 32 Hero, 270 Guardian, dan 1 gerai IKEA. Angka ini turun dibandingkan 2017 di mana perusahaan memiliki 449 gerai. Pada 2015, jumlah gerai HERO sempat menyentuh angka 610.

Penyusutan terjadi pada gerai makanan, seperti Giant dan Hero. Di sisi lain, gerai kecantikan dan perawatan Guardian justru tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Penulis : Rizki Aulia Rachman
Editor : Tim Mentor Nasional AMRI

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment