30 Jul MENGAPA BELUM BERHASIL?
Oleh : Adib Munajib *)
Setelah kita belajar goal setting atau goal praying, maka langkah selanjutnya yang paling penting adalah take action.
Sejak dulu kita sudah diajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah, alias ilmu pengetahuan yang tidak menghasilkan karya nyata, kita hanya menjadi katalog berjalan.
Sekurangnya ada dua pendekatan formula agar goal kita bisa menghasilkan karya nyata, saya mengenalnya dengan istilah BDSA dan siklus PDCA.
Pertama, BDSA itu kepanjangannya adalah Belief – Dream – Strategy – Action, dalam formula ini yang disentuh adalah level quantum dulu yaitu Belief (keyakinan) dan Dream (mimpi/cita-2).
Jadi sebelum menyusun Strategy dan Action, kita harus selesai dulu dengan dirinya sendiri dalam Belief dan Dream, sebab jika dirinya sendiri belum selesai, maka pijakan/pondasi Strategy dan Actionnya tidak kokoh, alias mudah berubah dan goyah, tidak konsisten dan tidak istiqomah.
Menurut ahli, definisi Belief System adalah Blue Print yang melatar belakangi seseorang bersikap dan berperilaku. Jadi semua hal yang kita lakukan berawal dari Belief System yang kita punya yang berasal dari alam sadar dan bawah sadar.
Sebaliknya jika Belief dan Dream sudah kuat, namum tidak menyusun Strategy dan Action untuk menggoalkannya, maka hanya akan tinggal keyakinan dan impian yang menguap tanpa hasil karya nyata.
Kedua, siklus PDCA itu kepanjangannya adalah Plan – Do – Check – Act, dalam formula ini lebih ditekankan pada aspek hasil (result oriented), setelah dalam level quantum merencanakan (Plan), maka selanjutnya dilaksanakan/diamalkan (Do), lalu melakukan cek dan kontrol (Check) dan terakhir setelah dilakukan cek adalah melakukan tindak lanjut (act) untuk perbaikannya.
Dalam prakteknya siklus PDCA dipergunakan dalam kegiatan continuous improvement (perbaikan berkesinambungan) untuk memperpendek siklus kerja, menghapuskan pemborosan di tempat kerja dan produktivitas.
Dari kedua formula diatas, setelah saya merintis usaha sendiri lebih sering mempraktekkan BDSA, sedangkan siklus PDCA saya praktekkan ketika masih menjadi karyawan di beberapa perusahaan.
Yang jelas setelah bermimpi haruslah take action (bertindak atau bergerak), sehingga bisa membuahkan hasil karya nyata, baik hasil karya nyata dalam bentuk kegagalan maupun dalam betuk kesuksesan.
Dari hasil karya nyata yang berbentuk kegagalan dan kesuksesan, kita bisa mengambil banyak pelajaran (hikmah) untuk memperbaikinya di masa yang akan datang, dibandingkan hanya bermimpi tanpa take action yang sudah pasti tidak akan punya pengalaman membuahkan hasil karya nyata, baik dalam bentuk kegagalan maupun kesuksesan.
Kata motivator kegagalan adalah ibu kandung kesuksesan dan keberanian dalam take action adalah jembatan antara mimpi dan kenyataan. Dalam prakteknya karena pemikiran lebih cepat daripada praktek, maka banyak juga ilmu-2 dari para mentor yang belum kita amalkan, sehingga belum ketahuan hasilnya, baik hasil dalam bentuk kegagalan maupun kesuksesan.
Karena dari sekian banyak ilmu pengetahuan dari para mentor, kita punya pilihan mana yang mau diamalkan dan mana yang hanya dijadikan sebagai pengetahuan saja. Seperti saya memilih formula BDSA lebih cocok untuk kewirausahaan dan siklus PDCA lebih cocok untuk perusahaan tempat saya berkarya nyata.
Yang penting setelah bermimpi adalah bertindak, setelah belajar ilmu pengetahuan adalah diamalkan, think than act, dream than action, visualization than actualization.
Mari kita belajar visualisasi kepada mentor ahlinya dan selanjutnya belajar aktualisasi diri juga kepada para mentor ahlinya di AMRI, itulah nikmatnya berkomunitas dan sekaligus bernetworking.
Salam lima jari.
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode.
No Comments