01 Jun MENTAL ORANG KAYA
Oleh: Mulyono *)
Saya akan bercerita pengalaman pribadi berinteraksi dengan ORANG KAYA. Walaupun kekayaan bukan segalanya, kekayaan itu sudah ada takarannya dan kekayaan tidak otomatis mendatangkan kebahagiaan.
Pengalaman pertama datang 7 tahun lalu. Seorang CEO perusahaan Internasional menyekolahkan anak kembarnya ke USA. Saat liburan di Indonesia, bukannya santai berleha-leha mereka berdua justru ikut kelas kuliah di sini. Belajar di saat liburan. Setelah lulus si kembar bikin perusahaan BTS. Jadi orang kaya bekerja keras.
2 tahun lalu saya bertamu ke sebuah pabrik di Bekasi. Bukan untuk berbisnis, tapi berguru kepada empunya pabrik.
Hartawan Setjodiningrat bercerita dalam mendidik anaknya menerapkan “anggaran” untuk setiap anaknya. Sang anak diberikan sejumlah uang untuk hidup dan sekolah selama SMP. Jika uang habis sebelum lulus, sang anak harus bekerja untuk biaya hidup. Jika lulus dan ada dana sisa, itu jadi bonus.
Jadi orang kaya belajar mengelola dan disiplin terhadap uang sejak muda. (Ingat materi Ustad Valentino Dinsi saat Acara Kopdar Nasional di Bekasi Januari lalu?)
2 bulan lalu saya diajak meeting bertiga dengan pengusaha yang menyedekahkan 50 hektar tanah untuk suatu ormas keagamaan. Tujuannya, membahas kesanggupan kita untuk suplai jaringan RAK TOKO LEUMART.
Jam 1 siang waktunya di sebuah mal di Grogol. Kami sengaja datang 5 menit sebelumnya. Kaget saya, beliau sudah menunggu lama. Terlihat gelas beliau sudah separuh terminum. Jadi Orang kaya menghargai waktu.
Innalillaahi wainna i’laihi Roji’un….
Kamis kemarin, telah meninggal dunia Bpk. Boedihardjo. Mantan Presiden Direktur Komatsu Indonesia, orang Indonesia pertama yang bisa duduk di posisi itu.
Belum lama saya berkesempatan ngopi bareng beliau. Hebatnya, beliau menolak ketika kami menawarkan untuk sowan ke rumahnya. Beliau mengajak ketemu di Bidakara, posisinya pertengahan dari rumah beliau dan planet Bekasi.
Lagi-lagi, orang kaya ini datang lebih awal daripada kami.
Ditengah pembicaraan beliau minta izin untuk menerima panggilan telpon dari anaknya yang sedang liburan di luar negeri.
Sarannya, “Carilah tiket pesawat internasional yang refundable”. Kita tidak bisa memastikan semuanya sesuai rencana kita. Saya belajar, jadi orang kaya memperhitungkan kemungkinan terburuk.
Bonusnya, sebelum berpisah saya melihat beliau menggoyangkan gelasnya. “Mubadzir”, katanya sambil membawa gelas tersebut ke mobilnya. Jadi orang kaya respek terhadap harta.
Semoga kami bisa belajar dari mereka.
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Ketua Bidang Bisnis dan Dana DPC AMRI Jakarta
No Comments