01 Jun KEWARAAN MENCIPTAKAN KESETIAAN PELANGGAN
Oleh : Nasruloh *)
Ibnu Sirin seorang ulama yang selalu makan dari hasil kerjanya sendiri seperti Nabi Dawud. Dia hidup dari hasil usaha dan keuntungannya. Dia pedagang yang jujur dan ahli ilmu yang bijaksana.
Dia berniaga siang hari dan melaksanakan hak perniagaan dengan baik. Dia pergi di pagi hari sambil membawa barang dagangannya dengan keuntungan sesuai syariat. Malam harinya, shalat malam, berharap ampunan, serta ahli ibadah yang zuhud.
Ibnu Sirin ketika datang ke pasar Bashrah pada tengah hari sambil bertakbir, bertasbih dan berzikir kepada Allah. Seseorang berkata, ” Wahai Ibnu Sirin, pada saat ini ?” Maksudnya, sampai di pasar sekalipun! Ibnu Sirin berkata, “Sungguh, ia adalah waktu yang lengah.”
Ibnu Sirin jika melakukan perniagaan, lalu merasa ragu terhadap sesuatu maka dia meninggalkannya.
Jika dia menerima uang palsu atau uang kuno yang tidak berlaku lagi dari pembeli, maka uang tersebut tidak digunakan lagi untuk berbelanja. Khawatir merugikan orang yang menerimanya kembali. Saat Ibnu Sirin wafat, ada sekitar 500 dirham uang palsu dan kuno.
Maimun bin Mihran bercerita kejujuran dan terpercayanya Ibnu Sirin dalam berbisnis, ” Aku datang ke Kuffah untuk membeli perabot rumah di toko Ibnu Sirin dengan tawar menawar.”
“Setiap kali dia menjual satu macam barang kepada ku, dia bertanya, “Apakah engkau ridha?” Aku jawab, “Iya.” Dia mengulanginya sebanyak 3 kali dengan menghadirkan dua saksi. Sejak melihat kewaraannya, aku tidak pernah meninggalkan kebutuhan yang paling kecil sekali pun kecuali membelinya di Ibnu Sirin.”
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Baksolahar
Referensi :
1. Kisah Para Tabiin, Syaikh Abdul Munim Al Hasyimi, Penerbit Ummul Qura, Agustus 2016
2. 60 Biograf Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid, Pustaka Kautsar, Februari 2008
No Comments